Aku baru saja putus dengan pacarku lewat sebuah aplikasi chat WhatsApp, well, itu bukan suatu yang aneh pada masa sekarang, aku pacaran dengan dia selama 1 tahun, sebelumnya aku bertemu dengannya di sebuah aplikasi sosial media juga, dan akhirnya kami lebih mengakrabkan diri di WA.

Kami mulai membuka diri satu sama lain di Wa, dia type cowok yang simple, humoris, asyik, romantis, dan aku suka dia tanpa pernah melihatnya secara langsung. dan pada akhirnya suatu hari dia bilang “aku suka kamu, aku suka kamu dari rambut hingga kakimu, aku nggak pernah merasakn ini sebelumnya, dan aku rasa aku mencintaimu”, aku melambung di buatnya dan kamipun memutuskan berpacaran lewat media sosial, bukan hal yang tidak wajar, karna saat ini sudah terlalu biasa saja hal-hal yang sepert ini.

Kalau marah kami akan saling sindir di story, saling memaki dengan tulisan dan berakhir dengan drama melankolis saling blokir nomor WA. Hahahaha, lucu. Semuanya kami lakukan di WA, saling mengirimkan emot love berwarna-warni, sebagai simbol rasa sayang kami satu sama lain,. Tukar-tukaran quote, puisi, atau kegitan sehari-hari lewat voice note. Vicall sampai larut malam dengan obrolan yang entah berfaedah atau justru unfaedah. Yang jelas kami sama-sama bahagia, walau tak berjumpa.

Lama-lama, aku berfikir. Apakah benar ini cinta?, hanya dengan mengirimkan emot love?, hanya dengan kiss lewat vicall yang hanya memonyong-monyongkan bibir dan akhirnya mencium layar ponsel?. Akupun mulai frustasi dengan perjalanan cinta katanya. Aku mulai merayu untuk bertemu, memberikan kode untuk segera bertemu, menuliskan selarik kata-kata aku rindu kamu dan bla bla bla. Tapi dia merespon dengan sangat cueknya, terkadang marah, dan membuat kami bertengkar terus dan membuat aku menangis setiap malam. Ada apa dengannya?, dia mulai berubah semenjak sebulan terakhir, apa karna aku terlalu egois selalu mengajaknya bertemu?, apakah aku salah?, kita hanya lain kota, masih satu provinsi, tapi apa alsan dya tak mau menemuiku?. Dan pada akhirnya kami putus tepat dihari kami mulai pacaran 05 februari. Aku menyerah karna dia tetap tidak mau bertemu denganku dan aku lelah jika harus terus menunggu tanpa kepastian. ***

09 februari Aku tengah menyusuri tepian pantai, memperhatikan seluruh kegiatan buih yang dengan lihainya menabrakan dirinya kekaiku dan menghilang merembes pada pasir pantai yang putih.

Aku menghitung sudah berapa banyak waktu yang aku habiskan hanya untuk emenunggu diayang tak pasti, tak pasti wujudnya, tak pasti cintanya, tak pasti segalanya. Aku masih menyusuri pinggiran pantai sebelum sebuah suara berat di belakangku yang mengagetkanku dan membuatku menoleh.

“lia kan?” tanya lelaki yang berdiri dihadapanku, matanya… hidungnya.. dia mengingatkanku pada seseorang, dan senyuman itu?, tapi nggak mungkin. “ hai apa kabar?” tanyanya padaku yang masih kebingungan. “kamu nggak kenal aku?” tanya lelaki itu lagi, dan aku balas dengan gelengan kepala “aku Arka sayang..” dia tersenyum “dan happy birth day” katanya menyodorkan sebucket bunga dan sebuah kue coklat kecil dengan lilin angka 20 diatasnya, aku syok tak dapat berkata-kata, orang yang baru saja aku fikirkan ada dihadapanku, apakah ini mimipi? Ia mencium pipiku dan aku merasakn hangat dsana, aku langsung memeluknya dan ia hanya terkekeh.

“maafin aku ka karna egois” kataku akhirnya “nggak apa-apa hanny, aku juga minta maaf karna baru berani sekarang menemuimu, dan satu hal yang kamu harus tau, aku punya satu hadiah lagi buatkamu” aku melepaskan pelukannya, mengambil bucket bunga di tangan kanannya dan kue ditangan kirinya, ia merogoh saku celananya, dan mengelurkan sebuah kotak kecil berbentuk hati dan membukanya sambil setengah berjongkok di depanku “will you marry me lia?” katanya seraya menyodorkan sebuah cicin berkilauan kearahku, aku terharu, banyak yang menyaksikan disini, aku hanya mengangguk dan sangat bahagia.***

Semuanya bukan karna seberapa jauh jarak kita, bukan karna seberapa ingin kita, tapi semua hanya masalh waktu, yakinkan tuhan akan memberikan kebahagian yang haqiqi pada waktu yang tepat.

Karya : Julia Sari Indah F.
Dikirim 17 – 02 -19