Kiriman Cerpen pada 24-12-18 dimoderasi tanggal 24-12-18
Selamat Membaca!

Tali dan tongkat bolehkah aku mengadu, apa kau ingat pada  hari itu? Kau yang menyaksikan kau benar benar menyaksikan, tentang apa yang kurasa saat dia begitu dekat.

Tali dan tongkat ingat? Jemariku dan jermarinya saling mengikat, sesekali aku dan dia melempar tatapan yang membuat kami terpikat.

Entah mengapa?
Karna tali dan tongkat itu benar benar menjadi objek sebuah cerita diantara kami.

Hai kau, mengapa kau berikan senyuman dan gerik itu padaku? Apa rasa itu kau rasakan juga? Kali ini aku hanya menebak.

24 jam terus berlalu, kedekatan itu semakin menjadi – jadi, kini aku bukan lagi menebak tapi aku mampu rasakan, kau sama sepertiku rasa itu ada pada dirimu, setiap hari aku melihat lelahmu, setiap hari aku melihat letihmu, jam latihan itu membuat aku tak terarah karna aku benar benar semangat oleh tatapanmu yang masih ada untukku.

Tak hanya itu dalam pesan singkat, kami saling berkabar, berbasa basi menyenangkan hati. Aku tau dari pesan singkat itu kami saling menyimpan rindu .

Pada waktu itu pesan darimu selalu menjadi urutan paling teratas di ponselku. Dan aku nyatakan aku bahagia mengenalmu, aku nyatakan itu pada diriku sendiri, aku malu untuk memulainya.

Kurang lebih 21 hari kami saling bertugas akhirnya tepat tanggal 29 itu tiba dimana kita harus tertinggal di bumi perkemahan itu, selama 72jam atau lebih tepatnya 3hari. Dalam waktu itu bumi perkemahan menjadi bumi yang paling bernada bagiku dan mungkin dirimu juga ( aku kembali menebak) kau giat mencariku, kau satu – satunya yang memberi perhatian khusus pada waktu itu.  Kau selalu dan semakin rajin memberi tatapan itu kesudut manapun aku melangkah.

Ingat saat malam itu?
Kita sling mencari dan berusaha mengakalkan cara agar kita bisa satu sisi lebih dekat?
Sungguh aku bahagia saat kau mampu mengungkapkan apa yang ku rasa malm itu. Kalimat itu masih terhendap dalam memoriku yang bertulis namamu.

” kamu tahu?  Sejak sebelum kita bertatap saat ini aku mencarimu kesana – kemari, aku rindu kau cantik malam ini ”

Kalimat itu lah yang benar benar membuatku tersipu oleh keadaan.
Wajah kami berdua akhirnya sama sama memancarkan mimik yang lepas dan lega karna telah berjumpa kembali. Saling menatap dan saling tersenyum itu hal rutin yang kami lakukan. Bosan?  Tidak ada kata bosan bagi kami yang sedang bernada ini.

Lagi – lagi tali dan tongkat menjadi sarana mempertemukan kami berdua. Tapi ini menjadi hari terakhir kita berada di bumi perkemahan. Rasaku mulai sedikit sedih aku hanya takut setelah ini berakhir kami tak lagi seperti ini.

Tapi kira masih bersama dalam hitungan beberapa jam lagi. Semaphore menhadi tanda terakhir kita dibumi perkemahan ini, entah esok kami bisa bertugas dengan satu team kembali atau tidak?  Bahagia bercampur haru yang kurasa.

Hai dirimu, pada tanggal 31 itu aku ingin nyatakan aku takut kehilanganmu, tapi aku masih yakin sesekali melihat wajahmu kau tetap denganku. Gantungan dan Gelang itu membuatku semakin yakin dan aku bertekad aku pulang bukan dengan air mata takut melainkan dengan air mata rindu.

Hai masa perkemahan 🙂 kini kami berllu denganmu, terimakasih masa itu lagi – lagi membuatku benar benar bahagia. Setibalah aku dirumah dan air mata meminta turun aku pun harus menurunkannya bersamaan dengan hati dan fikuran yang terus bermelodi tentang mu.Tapi tangisan ini tiba tiba reda saat ponsel berbunyi panggilan wajah dari namamu, kita tetap saling menatap kembali walau terhalang layar kaca ponsel.

Pada malam itu puisi kau lantunkan untukku, kau akhirnya mengungkapkan semua rasa yang menurutku sudah kau pendam sejak hari hari kemarin. Aku semakin rindu, dan air mata turun kembali dimulai sejak puisi itu di bacakan kita berjanji untuk tetap dekat dalam hubungan yang entah apa aku harus menamainya?

Hari – hariku semakin bahagia dan rasa itu semakin membelenggu begitu dalam. Ya, seperti kedalaman yang tak bisa diukur lagi. Setelah itu waktu mempertemukn kita kembali bukan dalam keramaian bumi perkemahan namun dengan tempat yang sedikit tenang. Kali kempat pertemuan itu kita lakukan dan benar membuatku semakin terlena, wajah tanpanmu semakin ku ingat dan ku ikat. Terimakasih kau beri bahagia itu padaku.

Tiba tiba hari hariku menjadi sedikit abu abu karna dia tak lagi bernada seperti hari kemarin. Tatapan dan senyuman itu perlahan memudar. Aku mulai takut aku menangis lagi. ” KOSONG ” itu yang aku rasa malam itu. Sekitar pukul 21.09 WITA  ponselku berbunyi pesan darimu, aku senang kau berkabar lagi, namun kini sangat berbeda pesan itu pesan yang tidak pernah aku fikirkan dan aku inginkan.

Kau tiba tiba mengatakan dengan perkataan untuk meninggalkanku untuku menghilang dariku, sebenarnya ada apa ? Aku menangis lagi. Kau tau rasa ini sudah dalam aku sudah terjebak dan kau ingin mengakhiri begitu saja? Aku menangis sejadi – jadinya malam itu. Dengan kesedihanku dan kehancuran harapanku pada manusia sepertimu aku mencari jejak apa sebenarnya alasanmu memutuskan keadaan ini?

Setelah aku cari tau, aku meras kau benar – benar semakin membunuh perasaanku. Mengapa kau dulu membuat nada itu untukku jika iramanta adalah untuk hati yang telah lama kau sudah milikki sebelum hatiku?

Lantas apa puisimu malam itu?  Sekedar pelipur?  Kau benar benar pandai bermain. Semua yang kuanggap, telah salah menilai. Terimakasih rasa yang hancur yang kau beri khusus untukku. Secepat kau jatuh hati secepat juga kau jatuhkan aku.

Kini bukan lagi rindu yang berbicara jika mengingat namamu. Melainkan air mata yang menjelaskan betapa aku pupus karna rasamu. Rasa yang hanya berpura pura dan bermain main yang kau letakkam pada hati yang tulus ini. Sekarang cintamu hanya ada dalam tinta diatas kertas ini. Maafkan aku yang pernah mencintamu dengan sungguh.

Terimakasih atas  nada hati yang kau senyapkan.

Karya : Ninda Ayu Distira