Cerpen Oleh Julia Sari Indah F.
Dikirim 03/03/19
Ayah…
Dalam hening sepi kurindu
Untuk menuai padi milik kita
Tapi kerinduan hanya tinggal kerinduan
Anakmu sekarang banyak menanggung beban
Aku masih mematung menatap nisan bertuliskan nama belakangku, sudah 3 tahun ayah meninggalkan aku dan aku masih tak mau jika posisinya tergantikan, aku masih nggak ingin ada ayah, papa, atau apalah itu dirumah ayah. Grimis masih menemaniku dipenghujung senja, aku maih bercegkrama dengan ayah dalam bisu, sebelum akhirnya semua menggelap dan aku tak tahu apa yang terjadi selanjutnya.
***
Aku berada dilorong serba putih, semuanya berpendar menyilaukan, dimana aku? Batinku terus berkecamuk, apakah aku sudah mati?. Sayup-sayup aku mendengar suara langkah kaki dari belakangku, aku menoleh dan mendapati samar-samar bayangan orang yang sangat ingin kutemui.
“ayah…” teriakku. Dan ia hanya tersenyum, aku berlari mengahmpirinya, memeluknya erat namun yang kurasa hanya dingin seperti ada kehampaan disana
“ayah.. apa aku sudah benar-benar ikut dengan ayah?”
“raisya.. ayah hanya datang kedalam mimpimu, ayah nggak mau kamu terus-terusan mengekang bundamu, dia berhak dapat kebahagiannya juga nak” kata ayah dengan senyum yang mengembang.
“raisya nggak mau yah…” rajukku
“raisya mau ayah bahagia di alam ayah?” pertanyaan ayah membuatku menoleh kearahnya
“tentu saja” jawabku mantap
“jika raysa mau ayah bahagia di alam ayah, raisya harus ikhlaskan ayah, dan raisya harus berjanji membiarkan bunda membahagiakan dirinya sendiri dan membahagiakan raisya dengan cara bunda” aku mengengguk tanda menyetujui perkataan ayah, aku memeluknya lagi dan sekarang aku rasakan ada kehangatan dsana.
“kamu harus kembali sayang, bunda sedang khawatir” aku tersentak dan melepaskan pelukanku
“nggak bisakah raisya dsini dengan ayah?” tanyaku
“waktu raisya masih jauh sayang, berjanji pada ayah, raisya akan bahagiain bunda” setelah mengucapkan itu perlahan-;ahan bayangan ayah berdenyar dan hilang.
Aku mencarinya kesana kemari, berteriak dan mulai menangis sesegukan lagi.
***’
“ayah…” aku terbangun, dan mendapati ruangan serba putih dan bau obat yang menyengat, seorang laki-laki menghampiriku dan setelah dekat aku tau dia pacarku ricky. Aku langsung memeluknya dan menangis sesegukan di dadanya membuat basah kaos quicksilver yang dipakainya, ia hanya mengusap-usap rambutku dan berkata
“semuanya baik-baik saja sayang, aku disini”
“raisya…” panggilan seorang wanita paruh baya mengagetkanku, dan membuat aku menoleh dari balik pundak ricky, dan mendapati wajah panik bunda disana, ia mendekat dan memelukku, tangisnya pecah dipundakku.
“maafin bunda sayang, bunda nggak akan memaksakan kehendak bunda lagi, bunda hanya mau raisya bahagia” katanya dengan sesegukan
Aku menangis juga akhirnya pada pundak bunda, ricky pun tak kuasa menahan air matanya, ku dapati ia mengusap-usap sudut matanya berkali-kal, setelah semuanya lebih tenang, aku membuka pembicaraan dengan bunda yang tengah duduk di sebelah ranjangku dan terus menggemgam tnganku.
“bunda,”
“iya sayang”
“raisya nggak apa-apa kalau bunda mau menikah lagi dengan om danu” bunda terbelalak menatapku
“tapi sayang…”
“udah raisya Cuma mauu bunda bahagia” kataku seraya tersenyum, dan bunda memlukku lagi, aku lega kyhirnya aku bisa ikhlas dengan takdir hidup yang harus aku jalani. Dan lagi-lagi ini karna ayah, aku menatap langit-langit kamar rumah sakit dan berbisik terimakasih ayah, raisya mencintai ayah.
***
Senja tak bergerimis kali ini, aku mengunjungi makam ayah lagi, tapi aku tak sendiri, ada ricky yang terus menggandeng tanganku, ada bunda dan ayah baruku. Aku menaburkan bunga dan menyirami makam ayah dengan air bunga, lalu kami semua berdoa untuk kebahagiaan ayah disana, sebelum pulang aku menunduk, membisakan kata rindu di nisan ayah, dan berharap ia datang lagi kemimpiku seperti waktu itu.






















