Kim Ji-Yeong: Born 1982 merupakan sebuah novel yang menceritakan pengalaman kehidupan perempuan Korea ditulis oleh Cho Nam Joo. Novel ini sejak pertama kali terbit banyak menuai kontroversi di Negri Gingseng, di Indonesia novel ini diterbitkan pada November 2019 oleh PT Gramedia Pustaka Utama.
Kim Ji-Young, anak kedua dari tiga bersaudara ia memiliki satu kakak perempuan dan satu adik laki-laki. Sejak ia masih belia Kim Ji-Yeong mengalami banyak ketimpangan yang terjadi pada dirinya dan kakak perempuannya, budaya patriakhal menjadi sebab ketimpangan tersebut.
Dalam ingatan Ji-Yeong ketika itu ia mencicipi susu bubuk milik adik laki-lakinya kemudian nenek Ji-Yeong marah bukan karna Ji-Yeong telah melewati usia untuk meminum susu tersebut melainkan karna neneknya menganggap Ji-Yeong telah mengambil barang milik “cucu laki-laki” kesayangan neneknya.
Dalam keluarga korea yang selalu mendapat keistimewaan adalah “laki-laki” bahkan kesempatan pertama untuk mengambil nasi diberikan kepada seorang laki-laki, jika dalam keluarga Ji-Yeong yang diperbolehkan lebih dahulu menyendok nasi Ayah, adik laki-laki lalu nenek. Adik laki-laki Ji-Yeong selalu mendapat perlakuan istimewa baik dari nenek maupun ayah karna ia seorang laki-laki.
Ketika Ji-Yeong masuk sekolah ada anak laki-laki teman sekelasnya yang selalu mengganggunya, ketika ia melapor hal tersebut kepada wali kelas. Wali kelas Ji-Yeong dengan nada santai mengatakan “itu biasa, anak laki-laki sering begitu jika menyukai perempuan.”. Ji-Yeong tak terima dengan perkataan wali kelas bagaimana bisa seorang laki-laki menyukainya tapi selalu mengganggunya.
Singkat cerita, ketika Ji-Yeong beranjak dewasa ia mulai bekerja pada satu perusahaan, diperusahaan tersebut ia mendapat perlakuan tidak adil bahwa seorang perempuan tidak cocok untuk memimpin dan mendapat jabatan khusus karena jika perempuan mendapat jabatan penting terlalu merepotkan ia harus cuti haid, hamil bahkan melahirkan. Padahal Ji-Yeong merasa lebih mampu mendapatkan posisi tersebut daripada rekan kerja laki-lakinya. Kemudian, Ji-Yeong menikah lalu memiliki anak, ia berhenti kerja dan fokus menjadi ibu rumah tangga dengan banyak pekerjaan yang tentu melelahkan meskipun suaminya turut membantu.
Ji-Yeong rindu akan bekerja, akhirnya ia memilih menjadi ibu rumah tangga sambil bekerja paruh waktu, tapi itu tidak berlangsung lama. Pada suatu hari Ji-Yeong bertemu rekan kerja perempuannya di Perusahaan dahulu. Rekan Ji-Yeong bercerita “saat ini situasi kantor tidak aman bagi perempuan, untung kamu sudah berhenti. Karyawan laki-laki memang keterlaluan mereka memasang CCTV pada setiap toilet perempuan. Lalu, rekaman CCTV perempuan tersebut akan saling dibagikan di grup karyawan laki-laki dan menjadi “bahan candaan.”. hati Ji-Yeong sakit mendengar hal tersebut, sejak kecil banyak hal yang dialami dirinya dan perempuan lain. Di keluarga laki-laki selalu mendapat perlakuan istimewa hanya karna dia “laki-laki”, di Sekolah anak laki-laki selalu mengganggu perempuan entah dengan selalu menaruh cermin di bawah meja perempuan dan lain-lain, di Perusahaan laki-laki selalu “dianggap lebih mampu” memimpin karna tidak mengalami pengalaman biologis seperti perempuan, ketika menikah perempuan selalu dihadapkan pada pilihan bekerja atau menjadi ibu rumahtangga saja padahal banyak perempuan yang mampu melakukan keduanya.
Ketimpangan sosial yang dialami Ji-Yeong terjadi karena adanya perbedaan Gender. Dalam buku karya DR. Mansoer Fakih “Analisis Gender dan Ketimpangan Sosial” dijelaskan: Sejarah perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan terjadi melalui proses panjang. Adanya perbedaan tersebut dikarenakan oleh banyak hal, diantaranya dibentuk, disosialisasikan, diperkuat, bahkan dikontruksi secara kultural. Dari perbedaan tersebut “melahirkan” ketimpangan sosial pada perempuan yakni: Marginalisasi (peminggiran terhadap perempuan), Subordinasi (anggapan bahwa perempuan itu irrasional dan terlalu emosional sehingga perempuan tidak bisa tampil dalam ruang publik), Stereotip ( pelabelan negatif pada perempuan), Kekerasan dan Double Burden (beban kerja ganda).
Singkat yang dapat penulis uraikan untuk lebih jelasnya kita bisa mebaca buku Kim Ji-Yeong: Lahir Tahun 1982 atau menonton filmnya dengan judul serupa.
(Dinul Qoyyimah, PAC IPPNU Baturiti)




















