Pimpinan Wilayah (PW) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Provinsi Bali menggelar puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-75 Fatayat NU dengan serangkaian kegiatan edukatif dan inspiratif, dengan tema “Organisasi Digdaya: Perempuan Berdaya dan Berkarya”. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa, 13 Mei 2025, di Musholla Joglo Kalifa, diisi dengan rangkaian acara halal bihalal dan ngaji bersama Gus Kafa dan Ning Sheila dari Pondok Pesantren Lirboyo.
Puncak harlah ini dihadiri oleh seluruh kader Fatayat NU se-Provinsi Bali, serta perwakilan dari organisasi Banom NU lainnya seperti Muslimat NU, GP Ansor, IPNU-IPPNU, Baznas Provinsi Bali, dan segenap pengurus PWNU Provinsi Bali. Hadir pula tokoh perempuan dari DPRD Bali, Geg Mita, serta sejumlah sponsor yang turut mendukung suksesnya acara.

Ketua PW Fatayat NU Bali, Tri Ayu Wahyuni, S.Pd., M.Pd., mengungkapkan bahwa organisasi perempuan muda NU ini telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam satu tahun terakhir, khususnya dalam hal pengkaderan.
“Alhamdulillah, Fatayat NU Bali telah melaksanakan LKD di seluruh kabupaten/kota se-Bali dan berhasil melahirkan empat fasilitator nasional,” ujarnya dalam acara puncak harlah yang digelar di Denpasar, Selasa (14/5).
Saat ini, Fatayat NU Bali telah memiliki sembilan Pimpinan Cabang (PC) aktif, 22 Pimpinan Anak Cabang (PAC), serta 20 Pimpinan Ranting di berbagai daerah. Capaian tersebut disebut Wahyuni sebagai bukti kemajuan perempuan muda NU di Bali.
Rangkaian harlah telah dimulai sejak Februari, meliputi seminar edukatif tentang pernikahan dini, kunjungan ke lapas perempuan, hingga silaturahmi ke tokoh dan pembina. Pada puncak acara, digelar lomba mewarnai untuk anak-anak, pemeriksaan kesehatan gratis, dan tasyakuran.
Ayu juga menyoroti pentingnya literasi digital melalui program “Ngalim” (Ngaji Lima Menit) yang digelar selama Ramadan, sebagai sarana kader Fatayat untuk belajar berbicara dan menyampaikan ilmu. Tiga kader terbaik dari program ini mendapat penghargaan khusus.
“Fatayat bukan sekadar organisasi, tapi ruang kontribusi nyata perempuan muda dalam membangun bangsa, menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, serta berperan dalam bidang sosial, politik, hukum, dan pemerintahan,” tegasnya.
Ia juga mengumumkan kerja sama PW Fatayat NU Bali dengan ITSNUBA Bali dalam bentuk beasiswa pendidikan bagi kader aktif. “Tidak ada lagi alasan untuk berhenti belajar. Jadilah terdidik sebelum mendidik,” tutupnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua PWNU Provinsi Bali, KH. Abdul Aziz, S.Pd., turut memberikan apresiasi atas peran aktif Fatayat NU dalam menggerakkan roda organisasi. “Apa yang dilakukan Fatayat, pada hakikatnya turut membesarkan Nahdlatul Ulama secara keseluruhan. Karena setiap langkah banom NU adalah bagian dari kebesaran NU,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara NU dan masyarakat luas, khususnya di Bali. “Di Pulau Bali, NU dan banom-banomnya seperti Fatayat dapat diterima dengan baik, bahkan hingga ke tingkat banjar. Kuncinya adalah komunikasi yang santun dan kolaboratif,” tegasnya.
KH. Abdul Aziz juga menyoroti pentingnya menjaga hubungan baik dengan tokoh-tokoh lokal dan pemerintah sebagai wujud kontribusi NU dalam membangun Bali yang damai dan harmonis. “Mari terus membangun kebersamaan dan memberikan contoh nyata bahwa NU hadir membawa manfaat.”
Reportase & Editor: Michael Andi




















