Sejarah Singkat Masjid Besar Al-Hidayah Candikuning, Baturiti Tabanan Bali
Dibacakan Pada Acara Selamatan dan Tasyakuran Akbar Masjid Besar Al-Hidayah
Minggu, 16 Oktober 2022 / 20 Rabiul Awal 1444 H.

Masjid Besar Al-Hidayah adalah Masjid yang berkedudukan di Kecamatan Baturiti, tepatnya ditengah-tengah objek wisata Danau Beratan Bedugul Desa Candikuning Kecamatan Baturiti Kabupaten Tabanan Bali, berdampingan dengan mayoritas pemeluk agama Hindu yang hidup rukun hingga sekarang.
Berdirinya masjid ini tidak terlepas dari peran leluhur perintis Desa Candikuning khususnya dari kalangan umat Hindu dan umat Islam, pada fase awal masjid ini menempati lahan yang terletak di depan Pura Ulun Danu Beratan, hingga pada tahun 1927 masjid ini berdiri di atas tanah milik Kumpi Awal dan Kumpi Nurdinah, tanah ini diserahterimakan sebagai tanah wakaf dengan ikrar wakaf dihadapan Guru Alimun dengan niat agar tanahnya digunakan untuk pembangunan dan pemakmuran masjid.
Pada awalnya bangunan masjid ini sangat sederhana, berukuran lebih kurang 5 x 5 meter, saat itu sebutan masjid belum populer, masyarakat menyebutnya langgar atau santren, karena selain berfungsi sebagai tempat ibadah, masjid ini juga digunakan sebagai sarana Pendidikan untuk belajar mengaji dan belajar ilmu agama, kitab yang dipelajari antara lain Kitab Al-Qur’an, Kitab Masa’illah, Sifat Dua Puluh, Perukunan, Bulughul Maram, Siyarussalikin, Syamsul Ma’arif, dll.
Untuk menampung perkembangan penduduk yang semakin pesat, pada tahun 1948 diadakan rehab pertama, sejak itulah masjid ini menjadi lebih permanen dengan beratap genteng dan berkubah, rehab tersebut dimaksudkan agar sholat jum’at dapat dikerjakan dengan layak, peletakan batu pertama dilakukan oleh Guru Nuruddin Keramat Sindu, Karangasem Bali.
Pada tahun 1978 fisik masjid mengalami rehab berat dan telah mengalami tiga kali renovasi ringan, biaya pembangunan masjid ini diperoleh dari donatur yang digalang oleh pemuda melalui pembentukan Yayasan Sosial Al-Hidayah pimpinan Bapak Mochammad Anwar Bick, tercatat mantan Presiden Soeharto memberikan sumbangan sebesar 7 juta rupiah, juga Menteri Agama Bapak Alamsyah Ratu Prawiranegara sebagai salah satu donatur yang sempat berkunjung dan menjadi imam sholat asar, disamping donatur dari wisatawan termasuk Sultan Brunei Darussalam. Selanjutnya masjid ini diresmikan sebagai Masjid Besar yang berkedudukan di tingkat Kecamatan oleh Wakil Gubernur Bali Bapak Muljono.

Adapun rehab terakhir dimulai pada tahun 2009 hingga menjadi bentuk bangunan seperti saat ini, pada fase ini dilakukan pemasangan kembali empat soko guru, pembangunan 2 buah menara masjid, perbaikan bedug dan mengakomodir aspirasi umat Hindu untuk mengadopsi arsitektur/ ornamen stil Bali dan atas perannya sebagai pilar toleransi dan kebinekaan, pada tahun 2016 Masjid Besar Al-Hidayah dinyatakan sebagai Masjid Percontohan Tingkat Nasional oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saefudin.
Masjid Besar Al-Hidayah menjadi bagian penting penunjang pariwisata Bali, tercatat beberapa figur publik pernah hadir di Masjid ini baik dalam rangka urusan dinas ataupun sekedar rekreasi dan melaksanakan ibadah sholat, diantaranya Prof. Mahfud MD, I Made Urip, Khofifah Indar Parawansa, Try Sutrisno, Pangdam IX Udayana dll.
Secara legal formal Masjid ini berada di bawah pengelolaan Nadzir Wakaf dan Yayasan Sosial Al-Hidayah Bedugul, biaya operasional dan pengembangan masjid ini diperoleh secara swadaya dari infaq para wisatawan melalui kotak amal jariyah yang disediakan di dalam masjid, juga bantuan tidak tetap dari pemerintah.

Sebagai Masjid Besar, Masjid Al-Hidayah Candikuning merupakan induk dari 3 masjid dan 5 musholla yang ada di Kecamatan Baturiti, yaitu Masjid Murabithin Baturiti, Masjid Jami’ Miftahul Mubin, Masjid Al-Hikmah, Musholla Baiturrohman, Musholla Al-Amin, dan Musholla Ar-Rohmah dengan jumlah jama’ah + 5000 orang, 2000 diantaranya d tinggal di Banjar Dinas Candikuning II dan + 180 jiwa menetap di lingkungan sekitar Masjid Besar Al-Hidayah.
Sumber :
- Bpk. Zainur (Tokoh Sepuh Candikuning)
- Bpk. H. Mochammad Anwar Bick (Tokoh dan Nadzir Wakaf)
- Bpk. H. Moch Ali Bick (Ketua Masyarakat)
- Bpk. Sami’un (Tokoh Masyarakat)
Penulis: Subandi, S.Pd.I, M.Pd. (Sekretaris Masjid Besar Al-Hidayah)
Editor: Irfandi / Michael Andi























