Artikel Oleh Shine
Dikirim 31.12.18
Dipublish 31.12.18
Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru Melalui Pelatihan Berkala Di MA AL-Bukhori Desa Jungkat-Ra’as
A. Latar Belakang
Pada dasarnya pendidikan merupakan suatu usaha untuk membudayakan manusia atau memanusiakan manusia. Pendidikan merupakan unsur penting dalam aspek kehidupan, baik kehidupan dalam keluarga, masyarakat, maupun kehidupan bangsa dan Negara. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat pada era global saat ini menyebabkan cepat pula berubah dan berkembangnya tuntutan masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk pula dalam bidang pendidikan. Masyarakat yang tidak menghendaki adanya keterbelakangan perlu menanggapi serta menjawab tuntutan kemajuan tersebut secara kontinyu. Dalam kaitan dengan hal itu, seorang penulis telah mengemukakan, bahwa hakekat perubahan masyarakat memerlukan pengetahuan baru, keterampilan baru, tanggungjawab substansial terhadap nilai-nilai masyarakat (Tyler, 1978). Berdasarkan pendapat tersebut, dapat dikemukakan, bahwa dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat dalam era global ini, dapat membawa dampak pada perubahan nilai-nilai masyarakat, sehingga masyarakat memerlukan pengetahuan dan keterampilan baru yang memadai untuk menghadapi perubahan/perkembangan yang dihadapi untuk menghadapi hal itu perlu adanya bantuan/dukungan substansial dari kelompok-kelompok pembaharu, yang salah satu diantaranya adalah lembaga pendidikan.
Berkaitan dengan hal di atas lembaga pendidikan (sekolah) harus bersifat fungsional, dalam arti senantiasa menyiapkan program-programnya sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat yang senantiasa berubah dan berkembang. Di samping juga menyesuaikan cara-cara atau metode Belajar-mengajar yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang secara terus-menerus. Hal itu disebabkan karena fungsi lembaga pendidikan (sekolah) biasa digunakan oleh masyarakat sebagai “pintu gerbang” untuk menghadapi berbagai tuntutan yang terjadi di masyarakat.
Untuk mengoptimalkan fungsi lembaga pendidikan (sekolah) sebagai “pintu gerbang” dalam menghadapi berbagai tuntutan masyarakat tersebut,pemerintah telah mengambil langkah-langkah nyata melalui pembaharuan (inovasi) pendidikan. Pembaharuan tersebut khususnya berkaitan dengan kurikululum dan metode pembelajaran. Pembaharuan kurikulum, misalnya dapat dilihat adanya beberapan kali pembaharuan, mulai dari kurikulum 1968, 1975, 1984, 1994, dan yang paling akhir kurikulum 2004, yang kemudian lebih dikenal dengan kurikulum berbasMs°yomput%fsi (KBK); sadñlg)an dalam hal metmdm!pembelaj!raO t%lai äylakuka~ 0mmbaharuáN æqrH mltËbe(beram`h¨ m’vgMd¤ anXa jawáb,bke metode yAnç0beroòen6asi padá”s#rwa (stue%êtcentered), seperti pengAzá”in!kåtupampilan proses,cáâa edaJer 3isVa ák4+f(Sb É1 Apaq C6tfÄge¦KcdvA¤^g+sn)ng(SAL), dan ContecÕue> TeAcèyng an$ LDarning (CtL©> Dara Matode pembelajapád!3@nç0berorentasy`0yE!(kognidI6¦pódp’rti cer`låì,!Tånya jawaf,0fan råsk6Iré0ke metode yang lebi( mDnekaNká~ pada
aÛeek afekôi&n Ve@gòdm `gmbEìáz#rAn konpesqTña|bhKontecTuá| teáshin’ aOd Learning/KTl- dan påmb’laj!raO quanôtmæ(Quantung Tc#kylg !nd!Låqrning/QTL)* ^cmen`lemikian tidak Kaìuh0renting
aÛeek afekôi&n Ve@gòdm `gmbEìáz#rAn konpesqTña|bhKontecTuá| teáshin’ aOd Learning/KTl- dan påmb’laj!raO quanôtmæ(Quantung Tc#kylg !nd!Låqrning/QTL)* ^cmen`lemikian tidak Kaìuh0renting
ôslam(uPeya mengoptimql+in fuJgã{“lelCeãa pendidakAh ()smkOhah) |eZwEfut dala ýV-beSkaf Palayenpl¤kepádabo`ûüa0akñt`+fad`h $il@kujaê pembaharuao ýA.ç0Ãe2)aHtan dengan tenaga iexdndidioa~. khusuqnq` guru.
Upaya xeNcembangan profesi gqrm”Sabenqr.ña”6miax”banyak dilak}kEj0mlej xdmeri~n´khf!muLaé2disi pembAiáæ}aN$LPTK0y!fg mengarahkej0bgndidikan calon gu2u Tntek penguasaan kompetensi tertentu, pembaharuan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU No. 20/2003), yang kemudian diikuti dengan penerbitan PP No. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang salah satu isinya adalah tentang standar tenaga kependidikan, sampai perkembangan terkhir dengan diterbitkannya UU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen, yang menjadi dasar pijakan utama pengembangan profesionalisme guru.
Berdasarkan UU No. 14/2005 tersebut telah ditetapkan, bahwa guru mulai dari TK hingga SLTA harus berpendidikan minimal S1 atau D4. Berdasar undang-Undang itu pula kompentensi guru telah dipatok mencakup 4 kompetensi, yaitu: 1) kompetensi pedagogik, 2) kompetensi kepribadian/personel, 3) kompetensi social, dan 4) kompetensi profesional.
Guru dituntut menguasai kurikulum yang berlaku, menguasai materi dan metode yang akan disampaikan, memahami perkembangan peserta didik dan dapat mengaplikasikan dalam perencanaan serta pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan sehingga siswa aktif, inovatif dan menyenangkan. Namun umumnya guru masih kurang menguasai hal tersebut diatas, hal itu membuat siswa tidak menyenangkan dalam menerima pelajarannya. Faktanya dalam belajar kebanyakan siswa belum membaca bahan yang akan dipelajari, siswa datang tanpa bekal pengetahuan seperti membawa wadah kosong. Lebih parahnya lagi, siswa tidak mengetahui tujuan dan manfaat belajar yang sebenarnya bagi masa depannya nanti.
Berdasarkan pengamatan penulis di MA AL-Bukhori Kecamatan Ra’as terdapat beberapa masalah dalam pembelajaran selama ini antara lain:
1. Pembelajaran yang kurang menyenangkan bagi siswa.
2. Kurangnya minat siswa terhadap pembelajaran.
3. Siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep.
4. Kurangnya sarana dan prasarana untuk pengembangan pembelajaran.
5. Guru kurang mengaitkan materi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari.
6. Guru terlalu Monoton dalam menyampaikan materi pembelajaran.
7. KKM belum tercapai.
Sebagai pendidik, penulis melihat pembelajaran menjadi kurang efektif karena hanya cenderung mengedepankan aspek kognitif dan mengesampingkan aspek psikomotorik dan afektif . Hal ini tentu suatu hambatan bagi guru, namun penulis ingin mengubah hambatan tersebut menjadi sebuah kekuatan dalam pengelolaan kegiatan belajar mengajar yang efektif dan efisien sehingga nantinya akan mendapatkan hasil yang memuaskan.
Untuk menjawab hal itu, penulis mencoba memberi solusi kepada guru-guru untuk menerapkan metode pembelajaran yang lebih menekankan pada tiga aspek yaitu aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Guru harus menyadari fungsi profesinya untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, kompetensi yang dimiliki oleh guru terutama dalam hal kompetensi pedagogik yang dimiliki oleh seorang guru harus ditingkatkan.
Seorang guru adalah sekaligus sebagai pendidik. Oleh karena itu guru yangprofesional harus memiliki bekal ilmu pengetahuan yang memadai dalam hal pedagogik atau ilmu pengetahuan. Pada penjelasan PP No. 19/2005 ditegaskan, bahwa yang dimaksut dengan kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengenbangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Dengan demikian kompetensi pedagogik tersebut diharapkan guru dapat merancang dan melaksanakan segala aktifitas mengajarnya dari dimensi pendidikan. Kompetensi ini lebih menekankan pada pembentukan insan paripurna. Proses belajar-mengajar tidak hanya dilihat dari bertambahnya ilmu pada diri anak saja, tetapi bagi guru yang memahami ilmu pendidikan, melalui proses belajar mengajar yang dilakukan juga harus mengandung aspek pendidikan. Di sini aspek-aspek moral dan akhlak yang mulia perlu dilekatkan pada bidang studi atau mata pelajaran yang diajarkan. Dengan demikian siswa bukan saja pintar dalam bidang studi, tapi juga memiliki tanggung jawab moral yang melekat pada bidang studi yang dipelajari. Misalnya, ketika mengajarkan matematika, guru tidak hanya mengajar materi matematikanya saja, melainkan juga mendidik agar setelah pintar matematika tidak digunakan untuk hal-hal yang negatif, seperti menipu atau memanipulasi perhitungan yang dipercayakan kepadanya. Demikian juga pada pelajaran-pelajaran lainnya, apabila gurunya telah profesional dan memahami masalah pendidikan, maka diharapkan anak didik akan dapat menjadi anak-anak yang disamping pandai dalam mata pelajaran, juga bermoral yang baik. Masalah inilah yang selama ini kurang mendapat perhatian dalam proses belajar-mengajar di sekolah-sekolah saat ini. Kompetensi tersebut menunjukkan kompetensi yang utuh sebagai pendidik untuk tujuan tersebut diatas, menumbuhkan kompetensi guru dalam sebuah lembaga pendidikan adalah kerja keras kepala sekolah. Seorang pemimpin pendidikan merupakan sentral dari kegiatan yang diprogramkan. Pemimpin merupakan decision maker dan juga teladan bagi anak buahnya. Karena itu seorang pemimpin setidaknya dapat memberikan contoh yang baik kepada anak buahnya. Sebagai pembuat keputusan dan penentu kebijakan, seorang pemimpin harus memiliki satu aspek yang memiliki peran yang sangat penting dalam memimpin organisasi bersangkutan.[1]
Ketidakmauan guru dalam meningkatkan kompetensi yang harus dimiliki menjadi potensi buruk dalam suatu organisasi satuan pendidikan, sebab akan mengakibatkan hal-hal yang menurunkan kualitas satuan pendidikan hal ini pasti tidak diinginkan oleh semua pihak yang terkait dengan satuan pendidikan terutama kepala sekolah, guru sendiri, siswa dan orang tua siswa. Oleh karena itu peningkatan kompetensi guru harus terus dilakukan dengan berbagai cara oleh kepala sekolah dalam upaya meningkatkan motivasi belajar siswa baik secara individu maupun klasikal.
Dengan penjelasan di atas dapat dilihat bahwa kepala sekolah mempunyai peran penting dalam membantu meningkatkan motivasi belajar siswa dan meningkatkan kompetensi guru serta kreativitas guru dalam mengajar melalui pendidikan dan pelatihan berkala untuk mendorong guru memecahkan permasalahan dikelas dengan membuat karya ilmiah penelitian tindakan sekolah (PTS).
Dengan demikian, peneliti bermaksut memberi bimbingan berkelanjutan atau pelatihan berkala melalui MGMP Kabupaten atau MGMP di sekolah kepada guru untuk meningkatkan kompetensi yang dibutuhkan dan mempunyai kemampuan dalam memecahkan masalah dengan baik. Sesuai tugas peneliti untuk melakukan manajerial dan supervisi sekolah.
B. Identifikasi dan Pembatasan Masalah
1. Identifikasi Masalah
a. Kurangnya supervisi kepala sekolah dalam proses belajar- mengajar sehingga guru kurang memperhatikan hasil belajar siswa.
b. Kurangnya pelatihan guru dan tenaga kependidikan sehingga kompetensi guru rendah.
c. Adanya beberapa guru yang mengajar tidak sesuai dengan bidangnya sehingga guru kurang menguasai materi yang akan disampaikan.
2. Pembatasan Masalah
Masalah dalam kajian ini dibatasi hanya pada kurangnya pelatihan berkalas bagi guru sehingga mengakibatkan kurangnya kemampuan kompetensi pedagogik guru yang ditunjukkan dengan pembelajaran yang monoton. Oleh sebab itu perlu adanya upaya peningkatan kompetensi pedagogik guru melalui pelatihan berkala di MA AL- Bukhori Desa Jungkat kecamatan Ra’as.
C. Fokus Penelitian
Berdasarkan latar Belakang diatas. Peneliti hanya membatasi dengan rumusan Masalah sebagai berikut:“Apakah Pelatihan Berkala dapat meningkatan kompetensi pedagogik guru?”
D. Manfaat Penelitian
Penelitian tindakan ini, dilakukan dengan harapan dapat memberi manfaat bagi siswa, guru, maupun sekolah dalam menghasilkan output maupun outcome yang berkualitas.
a. Manfaat bagi siswa :
1. Memperoleh pengalaman belajar yang lebih menarik.
2. Meningkatkan aktivitas siswa di dalam belajar.
3. Meningkatkan penguasaan konsep.
b. Manfaat bagi guru:
1. Memperoleh alternatif baru yang dapat diterapkan guru dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan.
2. Memperoleh alternatif baru yang dapat diterapkan guru untuk meningkatkan mutu pembelajaran.
c. Manfaat bagi sekolah :
1. Meningkatkan kinerja sekolah melalui peningkatan kompetensi pedagogik guru.
2. Menghasilkan output dan outcome yang berkualitas.
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kompetensi pedagogic guru melalui pelatihan berkala Madrasah Aliyah Al-Bukhori di Desa Jungkat Kecamatan Ra’as.
F. Tinjauan Pustaka
Berdasarkan hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan judul peneliti, bahwa judul tesis Bapak Adni Andana yang berjudul “Upaya Peningkatan Kompetensi Belajar Siswa Melalui Peningkatan Kompetensi Guru di SMP 2 Ibrahimy Sukorejo Tahun 2014” ada kesamaan judul dengan judul penelitian yang akan dilakukan penulis tetapi penelitian tesis bapak Adni lebih fokus pada peningkatan hasil belajar siswa atau hasil prestasi siswa.
Berdasarkan koleksi jurnal yang diposting pada tanggal 5 desember 2011, Penelitian ini bermaksud untuk menemukan modul pelatihan yang sesuai untuk meningkatkan kemampuan guru SD mengajar siswa dengan kebutuhan belajar beragam yang terdapat di kelas inklusi. Beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya menyebutkan bahwa differentiated instruction adalah pengajaran yang paling sesuai untuk siswa di kelas inklusi dapat mencapai tujuan belajar yang sama seperti yang diharapkan oleh SD. Kemampuan pengajaran differentiated instruction merupakan hal yang dapat dilatih dan ditingkatkan. Salah satu tipe pembelajaran adalah melalui bentuk pelatihan. Hasil akhir pembelajaran yang ditujukan dalam penelitian ini adalah sampai tahap kognitif level aplikasi. Berdasarkan hasil penelitian tersebut penyelesaiannya sama-sama menggunakan pelatihan tetapi tesis milik peneliti yang berjudul peningkatan kompetensi pedagogik guru melalui pelatihan berkala di MA AL- Bukhari Jungkat Ra’as lebih fokus pada peningkatan kompetensi guru dalam mengajar.
G. Definisi Operasional
Untuk menghindari kesalah pahaman dari judul ini maka perlu adanya penjelasan terhadap beberapa istilah diantaranya:
1. Kompetensi pedagogik
Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.[2]
Berdasarkan definisi diatas, peneliti sependapat dengan definisi yang disampaikan oleh Bapak Sulthon Masyhud tentang kompetensi pedagogik .
2. Pelatihan berkala
Menurut Mondy, (2008: 210), pelatihan merupakan serangkaian aktivitas yang dirancang guna memberi pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan para pembelajar untuk dapat melaksanakan pekerjaan mereka pada saat ini. Menurut Bartol dalam Sri Wiludjeng (2007: 131), pelatihan dan pengembangan merupakan suatu usaha perencanaan untuk menfasilitasi karyawan mempelajari tingkah laku yang berhubungan dengan pekerjaannya yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja karyawan.[3]
Berdasarkan beberapa definisi di atas maka peneliti dapat mendefinisikan bahwa pelatihan berkala adalah sebagai suatu kegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang pada waktu tertentu oleh suatu lembaga atau yang berkaitan untuk meningkatkan kemampuan guru berupa pengetahuan dan keahlian yang dapat diterapkan dalam pembelajaran masing-masing guru sesuai dengan kebutuhan guru untuk menyelesaikan suatu permasalahan.
H. Landasan teori
Pelatihan (training) bisa diartikan sebagai aktivitas formal dan informal yang memberikan konstribusi pada perbaikan dan peningkatkan tingkast pengetahuan, keterampilan, dan sikap karyawan. Pelatihan sebenarnya melibatkan lebih dari sekedar pembelajaran. Pelatihan mencakup pembelajaran untuk melakukan sesuatu dan jika itu berhasil, maka hasilnya terlihat dalam melakukan sesuatu secara berbeda.
Pelatihan juga bisa diartikan sebagai proses terencana untuk memudahkan belajar sehingga orang menjadi lebih efektif dalam melakukan berbagai aspek pekerjaannya.[4] Jadi dapat kita simpulkan bahwa pelatihan secara berkala dapat membantu meningkatkan kemampuan kompetensi pedagogik guru.
I. Kerangka Konsep
Dalam kajian teori diatas telah penulis paparkan bahwa untuk meningkatkan kompetensi pedagogik guru diperlukan adanya pelatihan terutama dalam hal kompetensi tersebut. Yang dimaksut dengan kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk meng-aktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
kurangnya pelatihan Teori 
guru tidak sesuai dengan bidangnya Dampak
melihat bagan diatas bisa disimpulkan bahwa rendahnya kompetensi guru disebabkan oleh kurangnya adanya pelatihan guru dan tenaga kependidikan, supervisi dari kepala sekolah dan adanya beberapa guru yang mengajar tidak sesuai dengan materi yang diajarkan kepada peserta didik sehingga peneliti memberi solusi melalui Pelatihan Berkala yang berdampak pada peningkatan kompetensi pedagogik guru.
J. Hipotesis
Berdasarkan analisis masalah, peneliti menyimpulkan bahwa rendahnya kemampuan kompetensi pedagogik guru mengakibatkat kegiatan belajar mengajar pasif sehinggsa kurang efisien. Maka hipotesis tindakannya sebagai berikut: “jika pelatihan berkala diberikan pada para guru MA AL-Bukhari di Desa Jungkat Kecamatan Ra’as, maka kemampuan kompetensi guru akan meningkat.
K. Metode Penelitian
1. Pendekatan Penelitian
Metode penelitian adalah suatu proses kerja yang didasari dengan ilmu pengetahuan untuk mempelajari proses berfikir, analisa berfikir dan menentukan hasil serta kesimpulan dari sebuah penelitian
Penelitian yang kami terapkan adalah Penelitian tindakan model kolaboratif dengan pendekatan kualitatif yang mengikut sertakan semua komponen sekolah untuk memberi umpan balik sehingga semuanya bertanggung jawab dengan hasil penelitian.
Metode penelitian akan terfokus pada pendapat model Kemmis dan Mc Taggart yang menerapkan tahapan melalui empat tahapan yaitu: perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Yang dimaksud empat tahapan sebagai berkut:
a. Perencanaan
Perencanaan adalah menyusun rencana tindakan dan dikenal dengan perencanaan, yang menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, dimana, dan oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. Penelitian tindakan yang ideal sebetulnya dilakukan secara berpasangan antara pihak yang melakukan tindakan dan pihak yang mengamati proses jalannya tindakan.
b. Pelaksanaan Tindakan
yaitu implementasi atau penerapan isi rancangan di dalam kancah, yaitu mengenakan tindakan dikelas.
c. Pengamatan
Pengamatan, yaitu pelaksanaan pengamatan oleh pengamat. Sebetulnya sedikit kurang tepat kalau pengamatan ini dipisahkan dengan pelaksanaan tindakan karena seharusnya pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang dilakukan. Jadi keduanya berlangsung dalam waktu yang sama.
d. Refleksi
Refleksi atau pantulan, yaitu kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah terjadi atau pantulan, yaitu kegiatan untuk mengemukakankembaliapa yang sudah terjadi.
2. Tempat dan Waktu penelitian
Dalam penelitian ini tempat atau sekolah yang akan diteliti yang berkaitan dengan penggalian data untuk meningkatkan kompetensi pedagogic guru melalui pelatihan berkala adalah MA AL-Bukhari di Desa Jungkat- Ra’as. Waktu penelitian yang akan dilakukan peneliti kurang lebih selama empat bulan dari sejak bulan maret sampai bulan juni 2015.
3. Sumber data
a. Narasumber (Informan)
Informan dalam penelitian ini peneliti hanya mengambil dari komponen masyarakat sekolah yang menguasai informasi yang berhubungan dengan persoalan yang diteliti, meliputi: kepala sekolah, waka kurikulum, wali kelas dan para guru yang terkait dengan proses peningkatan kompetensi pedagogik guru melalui pelatihan berkala.
b. Peristiwa atau aktivitas
Data atau informasi dalam hal ini dapat diperoleh melalui pengamatan terhadap peristiwa atau aktivitas yang berkaitan dengan permasalahan penelitian. Dalam hal ini peristiwa atau aktivitas yang diamati adalah fenomena dalam proses perencanaan secara umum yang meliputi: dokumentasi MA AL-Bukhari di Desa Jungkat-Ra’as, sejarah singkatnya, Struktur organisasi, model pengembangan kurikulum dan rencana strategisnya dalam meningkatkan kompetensi pedagogik guru melalui pelatihan berkala.
4. Kolaboratif Penelitian
Tujuan peneliti hadir dilokasi penelitian adalah untuk memperoleh data dengan mengggunakan metode penelitian yang telah disusun peneliti sebelum pelaksanaan dan hasil penelitian tersebut akan dilaksanakan untuk meneruskan tesis selanjutnya.
Demikian kehadiran peneliti di MA Al-Bukhori desa Jungkat Ra’as sebagai kolaboratif yang bertujuan dalam menyelesaikan masalah yang harus dipecahkan dengan berkerjasama antara guru bidang studi yang diteliti bersama peneliti.
5. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan tiga cara yaitu: observasi, wawancara dan dokumentasi. Instrumen pada penelitian ini adalah peneliti sendiri dengan alat bantu hand phone, camera, pedoman wawancara, alat tulis dan lainnya.
1. Observasi
Observasi diartikan sebagai pengalaman dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian.Pengamatan pencatatan yang dilakukan terhadap objek di tempat kejadian atau berlangsungnya peristiwa.[6]
Sedangkan menurut Sanafiyah Faisal dalam bukunya Sugiono, mengklasifikasikan observasi menjadi observasi berpartisipasi (Participation Obsevation), observasi secara terang-terangan dan samar-samar (overt observation and covert observation), dan observasi yang tidak terstruktur (unstruktured obsevation).[7]
Jadi, kesimpulannya obsevasi adalah salah satu teknik penelitian lapangan untuk mencari data dan informasi yang dibutuhkan sehingga mendapatkan data yang valid dan reliabel.Sedangkan data yang didapatkan melalui angket.
2. Dokumentasi
Teknik pengumpulan data dengan dokumentasi ialah pengumpulan data yang diperoleh melalui dokumen-dokumen.[8]
Peneliti dalam menggunakan metode ini bermaksud untuk mendapatkan data yang bersumber dari surat-surat atau bukti-bukti tertulis dan lain sebagainya dari lokasi penelitian. Adapun data yang ingin diperoleh antara lain: data guru, data siswa, struktur organisasi dan alat-alat lain yang masih relevan tentang peningkatan kompetensi pedagogik guru melalui pelatihan berkala. Data dokumentasi diperoleh melalui RPP, Hasil belajar, dan data kompetensi yang diperoleh melalui angket.
6. Analisis data
Melihat identifikasi yang ada peneliti membuat kesimpulan dengan judul peningkatan kompetensi pedagogik guru melalui pelatihan berkala yang diselesaikan dengan analisis data sebagai berikut.
Analisis data ini dilakukan melalui empat tahap, yaitu:
a. Perencanaan
Perencanaan adalah menyusun rencana tindakan dan dikenal dengan perencanaan, yang menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, dimana, dan oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. Penelitian tindakan yang ideal sebetulnya dilakukan secara berpasangan antara pihak yang melakukan tindakan dan pihak yang mengamati proses jalannya tindakan.
b. Pelaksanaan Tindakan
yaitu implementasi atau penerapan isi rancangan di dalam kancah, yaitu mengenakan tindakan dikelas.
c. Pengamatan
Pengamatan, yaitu pelaksanaan pengamatan oleh pengamat. Sebetulnya sedikit kurang tepat kalau pengamatan ini dipisahkan dengan pelaksanaan tindakan karena seharusnya pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang dilakukan. Jadi keduanya berlangsung dalam waktu yang sama.
d. Refleksi
Refleksi atau pantulan, yaitu kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah terjadi atau pantulan, yaitu kegiatan untuk mengemukakankembaliapa yang sudah terjadi.
L. Rencana Tindakan
Rencana tindakan yang hendak dilakukan yaitu pertama-tama merencanakan waktu pelaksanan pelatihan.Selanjutnya melakukan integrasi terhadap hasil analisis yang didapat dan menentukan langkah-langkah yang hendak dilakukan, dan setelah itu melaskukan penerapan terhadap langkah-langkah yang telah disiapkan.
M. Jadwal Penelitian
|
No
|
Kaitan
|
Bulan ke
|
|||||||||||||||||||
|
1
|
2
|
3
|
|||||||||||||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
||||||||||
|
1
|
Penelitian awal/ pendahuluan
|
x
|
· Terlaksananya observasi
· Diperoleh data dokumentasi
· Terpilihnya subyek
|
||||||||||||||||||
|
2
|
Pengembangan desain penelitian
|
X
|
· Proposal penelitian telah disetujui dan seminar
|
||||||||||||||||||
|
3
|
Pengurusan ijin penelitian
|
X
|
· Adanya ijin penelitian
|
||||||||||||||||||
|
4
|
Pengemb. Instrument penelitian
|
x
|
· Draf instrument penelitian
|
||||||||||||||||||
|
5
|
Perencanaan tindakan siklus 1
|
x
|
· Rencana tindakan yang siap dilaksanakan
|
||||||||||||||||||
|
6
|
Melakukan tindakan siklus 1
|
x
|
x
|
· Terlaksananya tindakan 1
|
|||||||||||||||||
|
7
|
Pemantauan/ observasi siklus 1
|
x
|
· Terlaksananya pengumpulan data PTS
|
||||||||||||||||||
|
8
|
Evaluasi dan refleksi siklus 1
|
x
|
X
|
· Terkumpulnya data(row data) scr.lengkap
· Datas penelitian siklus 1 yg telah terolah
|
|||||||||||||||||
|
9
|
Perencanaan tindakan siklus 2
|
x
|
· Rencana ulang tindakan yg siap dilaksanakan
|
||||||||||||||||||
|
10
|
Melakukan tindakan siklus 2
|
x
|
x
|
· Terlaksananya tindakan siklus 2
|
|||||||||||||||||
|
11
|
Pemantauan/ observasi siklus 2
|
x
|
· Terlaksananya pengumpulan data siklus 2
|
||||||||||||||||||
|
12
|
Evaluasi dan refleksi siklus 2
|
x
|
x
|
· Terkumpulnya data(row data) scr. lengkap
|
|||||||||||||||||
|
13
|
Penulisan draf laporan
|
x
|
x
|
· Draf lapoaran penelitian yang disetujui
|
|||||||||||||||||
|
14
|
Ujian tesis
|
x
|
· Terlaksananya ujian tesis
|
||||||||||||||||||
|
15
|
Revisi pasca ujian
|
x
|
· Dokumen tesis yg telah disyahkan
|
||||||||||||||||||
|
16
|
Penyerahan laporan terakhir
|
x
|
· Penyerahan naskah tesis
|
||||||||||||||||||
DAFTAR PUSTAKA
Suryana Agus. Panduan praktis menelgola pelatihan. Jakarta: EDSA Mahkota, 2006.
Amirul Hadi dan Hariyono.“Metodologi Penelitian Pendidikan II”, CV. Pustaka Ceria, Bandung 1998. Cipta, 2006.
Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktik, ket.13.Jakarta:PT.Rineka.
https://mgtofsdm.wordpress.com/2014/06/…/pelatihan/
http://rasto.wordpress.com/2008/01/31/kompetensi-guru/
Masyhud, M.Sulthon. Manajemen Profesi Kependidikan.Yogyakarta:Kurnia Kalam Semesta, 2014.
Muhama Saroni. Manajemen Sekolah, (Yogyakarta: Ar:Ruzz Media, 2006).
Lexy. J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Rosdakarya, : Bandung, 2000.
LAMPIRAN-LAMPIRAN
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Nama Sekolah : MA Al-Bukhori
Mata Pelajaran : Bahasa Arab
Kelas/Semester : X / Ganjil
Materi Pokok : ألبيانات ألشخصيۃ
AlokasiWaktu : 20 Menit
Pertemuan Ke : 2
A. Kompetensi Inti
|
1. Menerima dan menghayati ajaran agama Islam
|
|
2. Memiliki akhlak (adab) yang baik dalam beribadah dan berinteraksi dengan diri sendiri, sesama dan lingkungannya,serta dapat mengamalkan perilaku jujur,disiplin,tanggungjawab,peduli,santun dan pro-aktifdan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahandalm berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial.
|
|
3. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati (mendengar, melihat, membaca) dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang ألبيانات ألشخصيۃ,serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
|
|
4. Menyajikan pengetahuan faktual terkait dengan pengembangan dari yang dipelajari di madrasah dan mengolah sebuah kajian dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya disekolah secara mandiri dan mampu menggunakan metode sesuai dengan kaidah keilmuan.
|
- Kompetensi Dasar dan Indikator
|
KOMPETENSI DASAR
|
Indikator
|
|
1.1 Indikator
|
1.1.1 Mampu mensyukuri dapat mempelajari bahasa Arab sebagai bahasa pengantar komunikasi internasional
|
|
2.1 Menunjukkan perilaku santun dan peduli dalam melaksanakan komunikasi antar pribadi dengan guru dan teman.
2.2 Menunjukkan perilaku jujur, disiplin percaya diri, dan bertanggung jawab dalam melaksanakan komunikasi transaksional dengan guru dan teman
2.3 Menunjukkan perilaku tanggung jawab, peduli, kerja sama, dan cinta damai, dalam melaksanakan komunikasi fungsional
|
2.2.1Mampu menunjukkan perilaku santun dan peduli dalam mlaksanakan komunikasi antar pribadi dngan guru dan teman
2.2.1Mampu berperilaku jujur, disiplin percaya diri, dan bertanggung jawab dalam melaksanakan komunikasi transaksional dengan guru dan teman
2.3.1 Mampu berperilaku tanggung jawab, peduli, kerja sama, dan cinta damai, dalam melaksanakan komunikasi fungsional
|
|
3.1 Mengidentifikasi bunyi kata, frase dan kalimat bahasa arab yang berkaitan dengan:
ألبيانات ألشخصيۃ
3.2 Melafalkan kata, frase, dan kalimat yang berkaitan dengan: ألبيانات ألشخصيۃ
3.3 Menemukan makna atau gagasan dari ujaran kata, frasa dan kalimat bahasa arab yangberkaitan dengan: ألبيانات ألشخصيۃ baik secara lisan maupun tulisan
3.4 Memahami secara sederhana unsur kebahasaan, struktur teks dan unsur budaya dari teks terkait dengan: ألبيانات ألشخصيۃ yang sesuai dengan konteks penggunaanya
|
3.1.1 Mampu Mengidentifikasi bunyi kata, frase dan kalimat bahasa arab yang erkaitan dengan:
ألبيانات ألشخصيۃ
3.2.1 Mampu Melafalkan kata, frase dan kalimat yang berkaitan dengan:
ألبيانات ألشخصيۃ
3.3.1 Mampu menemukan makna atau gagasan dari ujaran kata,frase dan kalimat bahasa Arab yang berkaitan dengan: ألبيانات ألشخصيۃ
3.4.1 Mampu memahami secara sederhana unsur kebahasaan, struktur teks dan unsur budaya dari teks terkait dengan: ألبيانات ألشخصيۃ
|
|
3.1.1 Mampu Mengidentifikasi bunyi kata, frase dan kalimat bahasa arab yang erkaitan dengan:
ألبيانات ألشخصيۃ
3.2.1 Mampu Melafalkan kata, frase dan kalimat yang berkaitan dengan:
ألبيانات ألشخصيۃ
3.3.1 Mampu menemukan makna atau gagasan dari ujaran kata,frase dan kalimat bahasa Arab yang berkaitan dengan: ألبيانات ألشخصيۃ
3.4.1 Mampu memahami secara sederhana unsur kebahasaan, struktur teks dan unsur budaya dari teks terkait dengan: ألبيانات ألشخصيۃ
|
4.1.1Mampu melakukan dialog sederhana sesuai dengan konteks kalimat dengan tepat dan lancar terkait dengan:
ألبيانات ألشخصيۃ
4.3.1Mampu menyampaikan berbagai informasi lisan terkait dengan:
ألبيانات ألشخصيۃ
4.3.1 Mampu menyusun teks teks lisan dan tulis sederhana untuk mengungkapkan informasi terkait dengan:
ألبيانات ألشخصيۃ
|
[1]Muhama Saroni, Manajemen Sekolah, (Yogyakarta: Ar:Ruzz Media, 2006), 15.
[2]http://rasto.wordpress.com/2008/01/31/kompetensi-guru/
[3] https://mgtofsdm.wordpress.com/2014/06/…/pelatihan/
[4] Agus suryana. Panduan prasktis mengelola pelatihan. Cet.1(Jakarta: EDSA Mahkota, 2006), 1-2.
[6] Drs. Amirul Hadi dan Drs. H. Hariyono.“Metodologi Penelitian Pendidikan II”, (Bandung: CV.Pustaka Ceria, 1998), 93.
[7]Ibid.Hal. 129
[8]Ibid. Hal. 135





















