Sore hari dengan desiran pasir diiringi irama nada-nada ombak besar, matahari menyerang dengan hangatnya serentak angin keras yang tak menentu. Aku berjalan dipinggir perairan tercium bau aura wangi dari belakangku seorang gadis dengan gaun putihnya menyalipku. Langkahku terhenti sejenak kubersihkan mata perih akibat debu angin, Ketika kubuka mata terus kupandangi gadis yang berlari sambil mengangkat sedikit gaunnya.
Gadis itu menuju pintu ia pun menolehku dengan senyuman manisnya, akupun tersenyum padanya. Dialah gadis yang memiliki rumah disekitar pantai. Pantai yang berlokasi di desa mawar 20 km. dari pusat kota. Berpasir putih dan disekitar pantai banyak pohon peneduh yang dipenuhi jenis rumput-rumput hijau. Malamnya aku masih terbayang olehnya seakan terlena oleh senyuman maut sore itu, “Siapa sih gadis itu ingin sekali aku mengenalnya” seberca ucap dalam hati. Hingga aku terlelap dalam tidurku. Rasa penasaranku kian tumbuh, sore ini aku datang lagi kepantai bermaksud bertemu dengan gadis yang telah membuatku memikirkannya.
Tak lupa kuputar musik-musik indah dengan haedsetku ditelinga. Kulihat kiri kanan, aku jongkok lalu bangun lagi menanti kehadiran gadis bergaun. Tak sadar keasyikan mendengarkan musik, aku hampir satu jam menunggunya ia pun tak muncul disekitaran pantai. Niatku telah bulat untuk pulang saja, ketika kuberbalik melangkahkan satu langkah kaki ternyata ia telah duduk dipasiran. Sebenarnya sedikit terkejut, kutatap wajahnya subhanallah gadis ini memang cantik dengan tubuh yang langsing terbungkus gaun putih, aku mulai canggung sedikit gerogi apa yang akan kulakukan kali ini.
Kupaksakan menghampirinya duduk disampingnya beberapa menit kemudian kumatikan musik kucoba menyapanya: ” Hai.. Brow” Wadduh.. Kok malah manggil brow, ngerasa begok deh… Kebiasaan sih… Tapi sukur ia tak menanggapinya, hanya asyik menikmati suasana indahnya pantai. Dari pada aku salah sikap lagi, kuimbangi saja dengan berdiam. Kurang lebih satu jam aku duduk dengannya saling membisu menikmati lautan biru yang mulai suram sebab langit mulai gelap. Tuturpun muncul dari bibirnya: “Pulang gih, udah hampir malam” ujarnya. Masyaallah kok aku dipanggil mas ya, padahal aku gak tua-tua amat. Lalu kujawab: “Tapi besok kita ketemu lagi kan??” Saat kutanya ia malah beranjak berdiri dan pulang begitu saja. Sudah dua hari aku tak jumpa dengannya.
Kali ini kudatangi lagi tetapi aku tak bingung mencarinya karena gadis bergaun putih telah duduk ditempat biasa ia duduk: “Udah tadi ya?” Sapaku. “Baru duduk” sahutnya. “Boleh aku duduk”? Tanyaku. “Duduk aja, lagian pantai milik semua orang kan?” Ujarnya sambil meremas pasir. Gadis ini sungguh aneh. Kemudian keberikan sapaan yang sekiranya ia dapat menjawab banyak.. Tapi apa yah? Oh iya aku tahu. “Aku sering kesini kamu orang sinikan??” Tanyaku. “Masa’? kok aku jarang liat mas yah” “Aku pulang dulu, udah hampir malam mas” Ucap terakhirnya dengan secuil senyuman, membuat aku semakin tertarik padanya. Jam memang menunjukkan waktu maghrib jadi kubiarkan saja ia pulang, akupun kembali kerumah. Subuh menuju pagi, kicau-kicau burung membangunkanku dari tidurku dengan suasana hati senang aku bergegas sejenak menghitung tasbih, sesudahnya mandi dan sarapan lalu kunaiki motor untuk pergi kepantai menemuinya.
Aku mondar-mandir lihat sana-sini dia tak ada ditempat biasanya, namun ia duduk disebuah perahu kecil buatan ayahnya. Kuberanikan diri untuk mendekatinya, tanpa ada kata dariku dia sudah menyapaku terlebih dahulu: “eh.. Mas mau ikut?” Ujarnya. “Iya kemana?” Jawabku serasa tak percaya. “Kita muter-muter dengan perahu ini” Jawabnya. Lalu kujawab “Kamu, kamu serius kamu?”. “Udah deh, jangan banyak tanya, naik aja, mas yang dayung” Ujarnya sambil memberikan dayungnya kepadaku. “Ok” dengan semangat aku naik keperahu. “Tapi jangan macam-macam” Kata gadis itu. “Siap bos”. Jawabku.
Beberapa menit kemudian. “Ngapain senyum-senyum sendiri?” Tanya gadis itu diatas perahu. “Nggak ada, cuma senang aja hari ini”. Jawabku tetap fokus pada dayungan sambil kulirik matanya sedikit. Lanjut kusahut. “Empat hari yang lalu kutanya nama kok gak jawab?” Tanyaku. “Penting ya nama”? Jawabnya. “Terus aku panggil mbak siapa?” Sahutku padanya. “Ha,Ha..”. Sahutnya padaku. Gila ia hanya tertawa malah tak memberi tahu namanya. Setelah selesai jalan-jalan dengan perahunya, aku putuskan untuk pulang dan pamit padanya dan menuju motorku saat aku mulai berjalan.
Tiba-tiba ia berlari datang menghampiri seperti melompat tepat didepanku: “Ini no Hp ku mas” Ujarnya serta menjulurkan tangannya kepadaku. Dengan cepatnya kusambut tangannya dengan tanganku. “Aku velina mas”. Kata gadis itu. “Jangan mas dong, Panggil toni aja” Jawabku. “Ok deh toni, Langsung berbalik menuju rumahnya. Kujawab aja dengan keras. “Hati-Hati ya”, Lagi-lagi dia hanya tersenyum menolehku. Diatas motor aku geleng-geleng kepala sambil bernyanyi, kayaknya nanti malam aku susah tidur lagi nih.. Apalagi kali ini dia sendiri yang memberikan no Hpnya padaku.. Ha.Hai.. Tiap hari kutelfonin velina, terasa semakin dekat dengannya, kita seperti sahabat, saudara bahkan aku merasa jatuh hati kepadanya. Meski ku sadar mungkin saja dia tak ada rasa padaku. Sering kali aku perhatian, aku hibur dengan cerita-cerita lucu, kadang dia tertawa terbahak malah sesekali sakit perut katanya. Karena ulahku.
Setelah dua minggu aku mengenalnya. Tibalah saatnya, Pada hari ini tepat hari persahabatan sedunia, dimana hari ini adalah hari kasih sayang sesama sahabat. Inilah hari yang kutunggu untuk menyatakan perasaanku padanya dengan persiapan setangkai bunga yang akan kuberikan pada Velina. Aku datang kepantai. Tetapi kali ini dia tak ada dipantai. Karena tak tahan ingin menyatakan cinta pada velina. Kuputuskan menghampiri rumahnya: “Assalamu’alaikum” Ucapku sambil mengetuk pintu. “Wa’alaikum salam” terdengar sahutan seorang ibu dengan membukakan pintu untukku. “Siapa ini” Tanya ibu velina. “Saya toni bu, temennya Velina, Veilina ada bu?” Tanyaku. “Ohh velina baru aja pergi katanya mau menemui temennya”. “Temen yang mana ya bu?” Tanyaku. “Velina tidak bilang nak, coba saja susul” Sahut ibu Velina. “Iya bu terimakasih”. Sahutku pada ibu velina. Ibu velina memerintahku untuk menyusul velina. Aku lupa membawa Hp. jadi, mau gak mau, Kuhidupkan motor untuk mencarinya, ditengah perjalanan kulihat ramai gerumunan orang.
Sempat kutanya pada seorang pejalan kaki bahwa baru saja terjadi tabrakan maut. Refleks hatiku seakan terhantam kehawatiranku terhadap velina takut terjadi sesuatu pada velina, kukejar sampai rumah sakit. Dan kulihat ternyata itu memang benar-benar velina. Velina pun divonis telah pergi menghadap sang khaliq. Jujur saja aku masih tak percaya, dadaku sesak, kepalaku puyeng, mataku seakan rabun kurasakan kehilangan yang teramat dalam hingga tubuhku lemas. Mengapa velina begitu cepat meninggalkanku.
Setelah pihak rumah sakit menghubungi keluarga velina. Seorang dokter mendekatiku memberikan sebuah kado yang memang sudah dipersiapkan oleh velina untukku, Bahkan berisi kalimat; “Ton.. Selamat hari persahabatan, mulai sekarang kita berhenti sahabatan tapi kita buat ikatan cinta, karena aku mencintaimu ton” Subhanallah.. Sungguh tak kuasa dan tak kusangka velina memiliki perasaan sama terhadapku.
Setetes air mata menetes dari mataku. Terdapat pelajaran besar dari semua ini. Percayalah bila kita tak bisa memiliki seorang yang kita cintai. Cukuplah rasakan bahwa ia ada didalam hati. Karena sesungguhnya mencintai itu lebih indah dari pada dicintai. Dan saat itulah kita merasakan hidup yang sebenarnya.
~THE END~
Karya : Irfandi Tahun 2012


























