Denpasar– Pimpinan Wilayah (PW) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Provinsi Bali sukses menyelenggarakan Pendidikan Kader Guru Nahdlatul Ulama (PKGNU) Angkatan I pada 16–18 Oktober 2026. Kegiatan yang berlangsung di Gedung Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Bali tersebut diikuti puluhan peserta dari berbagai daerah di Bali.

Dari total 57 orang yang mendaftar, sebanyak 41 peserta dinyatakan sah sebagai kader Pergunu setelah mengikuti seluruh rangkaian pendidikan dan menjalani baiat pada penutupan kegiatan, Ahad (18/10/2026).

Ketua Panitia Pelaksana, Moh. Sahlan, S.Ag., menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, instruktur, dan panitia yang telah menunjukkan komitmen, kedisiplinan, serta kekompakan selama kegiatan berlangsung.

Ia berharap, setelah mengikuti PKGNU, para peserta tidak berhenti pada proses pengaderan, tetapi mampu melanjutkan perjuangan organisasi dengan menghidupkan Pergunu di daerah masing-masing.

“Harapannya, setelah ini teman-teman tidak diam, tetapi terus bergerak menghidupkan kembali Pergunu di daerah masing-masing,” ujarnya dalam sambutan penutupan.

Sahlan juga menjelaskan bahwa sertifikat kelulusan tidak dapat langsung diberikan pada malam penutupan. Sertifikat tersebut akan diterbitkan oleh Pimpinan Pusat (PP) Pergunu dengan nomor seri yang terintegrasi secara nasional, sehingga pendataan kader PKGNU dapat dilakukan secara berjenjang.

Ia pun mengucapkan selamat kepada 41 peserta yang telah dinyatakan sah sebagai kader guru Nahdlatul Ulama di Provinsi Bali.

Koordinator Wilayah (Korwil) Bali Nusra PP Pergunu, H. Lewa Karma, M.Pd., dalam sambutannya mengajak para kader untuk memperbaiki niat dan memperkuat keikhlasan dalam mengabdi kepada Nahdlatul Ulama melalui Pergunu.

Menurutnya, proses pengaderan tidak hanya bertujuan meningkatkan motivasi dan wawasan berorganisasi, tetapi juga membentuk karakter kader yang memiliki komitmen kuat terhadap perjuangan organisasi.

Ia menegaskan bahwa semangat dan motivasi perlu disertai keikhlasan agar pengabdian dapat terus terjaga. Pengorbanan waktu, tenaga, dan biaya yang telah dikeluarkan peserta selama mengikuti kegiatan diharapkan menjadi bagian dari ikhtiar untuk memperoleh keberkahan.

Lewa Karma juga mengingatkan bahwa baiat yang diucapkan para peserta bukan sekadar rangkaian kata, melainkan ikrar yang mengandung tanggung jawab moral. Karena itu, sumpah tersebut harus menjadi pedoman dalam memperbaiki diri sekaligus menjaga keberlangsungan organisasi.

“Jangan sampai sumpah yang telah kita ikrarkan hanya menjadi hiasan bibir. Jadikan baiat sebagai pedoman untuk memperbaiki diri dan organisasi, karena semuanya akan kita pertanggungjawabkan di dunia dan akhirat,” pesannya.

Selain itu, ia mengajak seluruh kader untuk mengamalkan prinsip ta’awanu ‘alal birri wat taqwa, yakni saling menolong dalam kebajikan dan ketakwaan. Semangat tersebut, menurutnya, perlu diwujudkan melalui sikap saling menasihati, menjaga persatuan, serta bekerja sama dalam menjalankan program-program organisasi.

Ia juga menekankan pentingnya ketaatan terhadap aturan, integritas, dan loyalitas dalam berorganisasi. Para kader diharapkan mampu menjaga amanah, menjalankan program yang telah disepakati, serta menunjukkan hasil nyata dari proses pengaderan di tingkat pimpinan cabang (PC) maupun pimpinan anak cabang (PAC).

Lewa Karma, yang mengaku telah mengenal Pergunu sejak 2012 dan terlibat dalam kepengurusan pusat sejak 2016, mengajak seluruh kader untuk terus memperkuat pengabdian kepada Pergunu dan Nahdlatul Ulama.

Menurutnya, PKGNU Angkatan I ini merupakan awal dari proses pembinaan yang perlu dilanjutkan melalui berbagai kegiatan organisasi di tingkat cabang dan anak cabang, dengan fasilitasi dari PW Pergunu Bali.

Dalam penyampaian kesan dan pesan, salah seorang perwakilan peserta menyampaikan terima kasih kepada PW Pergunu Bali, panitia, dan para instruktur yang telah mendampingi seluruh rangkaian kegiatan selama tiga hari.

Ia berharap, ilmu, pengalaman, dan nilai-nilai yang diperoleh selama PKGNU dapat diterapkan oleh para peserta di lingkungan kerja dan lembaga pendidikan masing-masing.

Menurutnya, guru tidak hanya bertugas menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi juga harus mampu menjadi inspirasi bagi peserta didik melalui keteladanan dan penanaman nilai-nilai perjuangan.

“Sebagai guru, kita tidak hanya mengajar dan mentransfer ilmu, tetapi juga perlu menanamkan nilai-nilai perjuangan yang telah kita terima selama pendidikan ini,” ungkapnya.

Ia juga mengajak seluruh peserta untuk meneruskan perjuangan para ulama melalui dunia pendidikan, dengan mengamalkan nilai-nilai keislaman dan keorganisasian di lembaga masing-masing.

Pada kesempatan tersebut, perwakilan peserta turut menyampaikan permohonan maaf apabila selama kegiatan terdapat sikap atau tindakan peserta yang kurang berkenan kepada panitia maupun instruktur.

Menutup penyampaiannya, ia berharap seluruh kader senantiasa diberikan petunjuk oleh Allah SWT, dipersatukan hatinya dalam perjuangan Pergunu, serta mampu menjaga semangat pengabdian kepada Nahdlatul Ulama.

Melalui pelaksanaan PKGNU Angkatan I ini, PW Pergunu Bali diharapkan dapat memperkuat kaderisasi guru Nahdlatul Ulama sekaligus mendorong lahirnya kader yang berintegritas, berkomitmen, dan siap berkhidmat melalui jalur pendidikan di berbagai daerah di Bali.