Kiriman cerpen pada 21-12-18 dimoderasi tanggal 21-12-18
Selamat Membaca!

Aku mencintainya
Bagai gerimis yang menghujam bumi
Lembut
Perlahan
Namun pasti

26 Agustus 2018

Aku sedikit gugup pada awalnya namun setelah saksi nikah mengatakan sah dan disambut meriah oleh semua undangan aku pun bisa bernafas lega, aku menatapnya seseorang yang menggandeng tanganku saat ini menuju singgasana kami, “akhirnya” hatiku berbisik

Aku fazzy ananda putri, tapi biasanya orang terdekat ku memanggilku zee, hari ini tepat hari ulang tahun ku yang ke 22 dan hari dimana aku resmi menikah dengan dya, sang pemuja rahasiaku, ya dia pemuja rahasiaku namun itu dulu. Siapa sangka dia yang menjadi pangeran ku hari ini, aku bahagia karna setidaknya aku mengenalnya dan kami memiliki cerita yang akan menjadi sejarah di keluarga kami kelak. Ahhh membyangkannya membuat aku tersenyum-senyum sendiri. Saat dipertemuan pertama kudenganya di sebuah kompleks perumahan biasa.

“zee…” teriak mamaku dari dapur
“Iya maa…” sahutku malas
“ kesini sebentar sayang.” Pinta mama

Huuuffffhht aku menuruti pinta mama dan berjalan malas meninggalkan laptopku yang ku biarkan menyala di balkon kamar.

“Kenapa ma ?” tanyaku malas
“Mama mau minta tolong” “anterin kue kerumah tante ina ya”

Hmmm “sekarang ma ?” aku sungguh malas jika harus kerumah tante ina, tetangga depan rumahku yang sudah seperti saudara sendiri.

“Iya.. Kamu kan udah lama gak pernah kesana” ucap mama sambil tersenyum
“mama aja deh …” “atau minta tolong kak jhoe aja” sahut ku malas sambil mencomot kue kacang yang baru keluar dari oven. Mama menoleh kepada ku dan berkata “fahri mau datang nanti sore” “makanya mama bikin kue kesukaannya fahri, jadi kamu harus mau bawain kue ini buat fahri nanti malam ya sayang”

Fahri ? Aku tercekat kue yang baru ku gigit separuh terjatuh dari tangan ku, buru-buru aku menuangkan air karna tak ingin tersedak. Sedetik kemudian aku tersadar dari alam bawah sadarku. Kenapa dia harus pulang setelah sekian lama ia menghilang. Aku terdiam seperkian detik sebelum akhirnya mama menepuk pundakku.

“Zee….” tegur mama
“ehh.. Iya maa” jawab ku tergugup

“mandi gih tru sbawain kuenya ke rumah tante ina” kata mama seraya tersenyum, tanpa mengiyakan ataupun menidakkan perkataan mama aku berjalan menuju kamar ku, menshouddown laptop ku dan menaruhnya di atas meja belajarku, aku masih terpaku di kursi belajarku memandang kosong ke fotoku dan fahri yang ku letakkan di sebelah lampu belajarku, entah apa yang kurasakan, apakah aku harus bahagia? Atau malah sebaliknya ? Akkhh… Aku frustasi dan tanpa sadar mengacak-ngacak rambut ku, sebelum akhirnya aku beranjak ke kamar mandi membersihkan diri dan bersiap kerumah tante ina.

Pukul 20:00pm
Knock..knock..

Aku mengetuk pintu rumah tante ina. Tak berselang lama pintu terbuka dan aku melihat tante ina yang sumringah melihat ku.

“eh zee sayang, ayo masuk” ajak tante ina setelah mencium kedua pipiku
“iya tante” sahut ku sembari mengekori tante ina masuk ke dalam rumahnya, ahhh entah sudah berapa lama aku tak berkunjung kesini.
“tumben kesini zee ?” tanya tante ina

“Iya tante.. Zee bawain kue buat tante disuruh mama” jelas ku sambil memberikan bungkusan kue untuk tante ina.

“kue kacang..” “ini kesukaan fahri” sambung tante ina sumringah aku hanya mencibir dalam hati *ya itu memang kesukaan fahri* “oh iya zee” “kamu gak mau ketemu fahri?” tanya tante ina

Deggg

Jantung ku berdetak lebih kencang, sekelumit pertanyaan ada di benak ku, akankah fahri sudah disini? Aku memberanikan diri bertanya pada tante ina

“Memangnya fahri sudah pulang tee ?” tanya ku sedikit panik

“oh zee belum tau ya?” “fahri sudah datang dari tadi sore” sahut tante ina sambil tersenyum, membuat aku semakin tercekat, sayup-sayup aku mendengar dua langkah kaki menuruni tangga, aku terkesiap begitu melihat dua lelaki jangkung yang sedang asyik bercengkrama sambil menuruni tangga, dan salah satu dari mereka adalah orang yang sangat aku kenali.

“fahri ..” teriakan tante ina membuat ku tersadar dan memalingkan wajah.

“Iya ma..” sahut fahri, ia masih mengobrol dengan temannya yang tak pernah aku tau sebelumnya, entah apa yang mereka bicarakan dan akhirnya temannya pergi ke halaman belakng dan fahri menghampiri aku dan tante ina. Oh mygod jantung ku serasa mencelos, aku ingin sekali beranjak dan lari sejauh mungkin dari sini, tapi itu mustahil, alhasil aku hanya menundukkan kepala. Fahri sudah berada di hadapan ku namun aku tak berani menatapnya, sumpah aku sangat takut jika harus menangis di depan tante ina.

“siapa ma ?” tanyanya
“Masak kamu lupa sama zee ?” tanya balik tante ina
“zee ???” tanyanya kaget, aku tak tau bagaimana ekspresinya bahagia ? Atau sebaliknya ?

“ya udah kalian ngobrol dulu ya. Mama mau kedapur dulu mau nyiapin kue buat kalian dan riyan juga” ucap tante ina seraya pergi meninggalkan kami berdua, aku masih tertunduk dan fahri masih mematung, sebelum akhirnya aku merasakan pelukan hangat fahri, aku tak tahan lagi dan akhirnya menangis sesegukan di dadanya.

“I’ts okay honney, semuanya baik-baik aja” “aku udah disini” bisiknya, ingin aku berteriak aku ingin dia tau bagaimana aku selama ini menahan untuk menangis di saat dia tak lagi memberi ku kabar, bahkan disaat dia benar-benar hilang dari hidup ku. Ia pun melepaskan pelukan nya menatap ku lembut dan menghapus air mata ku.

“hey jangan menangis, kamu jelek kalau menagis” candanya sambil tersenyum, senyum itu senyum yang aku rindukan 4 tahun terakhir. Aku hanya memukul pundaknya pelan, ia tersenyum lagi.

“Ayo ke belakang aku kenalin sama sepupu ku” ajaknya seraya menggandeng tangan ku. Aku hanya menurut dan mengikutinya.

Di taman belakang, masih sama seperti dulu saat aku dan fahri sering bermain disini sepulang sekolah, di gazebo besar di sudut kolam renang aku melihat cowok yang bersama fahri tadi tengah menatap ke langit yang saat ini penuh dengan bintang. Kami mendekat ke gazebo itu dan begitu sampai di sana fahri mengenalkan ku padanya, dan kutau namanya Riyan anak dari kakak om heru yang otomatis sepupu fahri dan keponakan tante ina, malam itu aku tak banyak bicara hanya bertukar nomor WA dengan fahri dan riyan, dan juga makan kue bersama, tepat pukul 22.00 fahri mengantarku sampai kedepan pintu rumahku.

06:30 Am

Aku terbangun dari mimpi indahku, ini hari ke 13 semenjak malam itu, malam dimana aku melihat senyum yang aku rindukan 4 tahun terakhir ini. Setelah malam itu entah kenapa aku selalu mendapat paket ataupun kejutan-kejutan kecil romantis yang entah dari siapa, tapi aku meyakini semua itu dari fahri. Aku beranjak dari tempat tidur ku membuka jendela dan menuju balkon, menatap balkon sebrang berharap melihat senyum yang selalu kupuja itu. Aku tergelak kecil, aku sangat menyayanginya hingga tak tau caranya berhenti, ia tak ada pagi ini di balkon, mungkin ia lelah. Aku beranjak ke kamar mandi setelah urusan kamar mandi beres, Akhirnya aku turun ke bawah untuk mencari sarapan, rumah tampak sepi, sepertinya mama sudah kepasar, kak jhoe ada kelas pagi, papa kekantor. Aku mendapati sebucket besar bunga whiterose di meja ruang tamu, aku mendekati bucket bunga itu dan mendapati sebuah kartu kecil di bawah bucket itu, aku mendapati nama ku di cover kartu berwarna pink, aku buka dan aku mulai membaca pesan yang tertulis disana.

*maafkan aku, hari ini aku tak mengirimimu puisi, bukan karna aku kehabisan kata tuk ungkap rasa yang bergemuruh ini, hanya saja aku ingin kau tau siapa aku! Sang pemuja rahasia mu, temui aku di hamparan pasir putih di ujung senja ini* _your.secret.admirer.R_

Aku tersentak kaget, mulai banyak pertanyaan memenuhi otak ku, siapakah dia ? Bukankah dia fahri ? Lalu ? Akkhhh… Akupun mengurungkan niat untuk kedapur dan kembali ke kamar ku meletakkan bucket bunga di atas ranjang dan melangkah mendekati sebuah boneka besar yang ku taruh di sebelah meja belajar ku, boneka ini kejutan pertama tepat 3 hari setelah kepulangan fahri ke indonesia,aku menemukannya terduduk di depan kamar ku saat itu boneka beruang coklat yang besarnya seperti diriku, aku buka lagi kartu yang ku biarkan menjadi kalung boneka itu, aku baca lagi isinya sebuah puisi romantis yang mampu membuat ku melambung, tapi tunggu aku menemukan huruf abjad N dikanan kata secreta dmirer. Otak ku mulai memanas memikirkan ini semua, dan akhirnya aku memutuskan untuk merebahkan badan ku lagi ke ranjang dan berusaha melupakan apa yang sedang terjadi, Intinya aku hanya harus pergi ke pantai sore ini.


16:45 Am

Aku baru pulang dari kampus dengan di antar oleh fahri, mama tengah menyiram bunga dihalaman depan, melihat kami mama tersenyum dan menghampiri.

“fahri gak mampir dulu?” ajak mama, akupun berharap dia mau mampir walau tiap hari dia selalu mampir.

“lain waktu aja tante” “fahri ada janji sama temen” tolaknya halus, ada rasa kecewa padahal aku tau dia ada janji dengan temannya, ahh ayolah hati menurutlah.

“Oh ya udah, lain waktu kita makan malem ya bareng papa mamanya kamu juga” kata mama sambil tersenyum, aku terkesiap, mungkinkah?.

“Iya tante, kalau gitu fahri pamit dulu ya tante” pamitnya lembut seraya tersenyum kepadaku, aku melihat fahri berlalu hingga ia masuk ke dalam rumahnya.

“ehem segitunya ngeliatinnya zee?” canda mama yang ku balas dengan mendelik menghadap mama yang terkekeh geli melihat ekspresi ku

“Mama…” rajukku manja memeluknya

“Kamu suka fahri?” pertanyaan mama sukses membuat aku menyembunyikan wajahku, mama memang tidak tau kalau aku dan fahri sudah pacaran semenjak ia memutuskan melanjutkan kuliah ke london 4 tahun lalu, kami sepakat menutupi dari keluarga kami karna takut di tentang karna aku msih kelas 1 SMA waktu itu. Mama hanya tersenyum dan mengajak ku masuk kedalam.

17.05 Am

Aku baru selesai mandi saat ku dengar notif WA hpku, aku pun merogoh hpku yang msih tersimpan didalam tas dan mulai melihat siapa yang mengirimkan ku WA, dahi ku mengernyit saat melihat notif itu ternyata nomor yang belum tersimpan di kontak ku, akupun membaca pesan singkat.

*ingatkah dengan janji dipenghujung senja ini?*

Aku menepuk jidat ku, aku lupa aku berjanji akan menemui secret admirerku di pantai senja ini akupun bergegas, setelah rapi aku menuruni anak tangga dengan terburu-buru karna takut terlambat aku lihat kak jhoe tengah memainkan gitarnya di ruang keluarga dan mama sedang memasak makan malam. Aku menghampiri kak jhoe memintanya mengantarku kepantai di dekat komplek perumahan sini, walau aku tak tau pantai mana yang pasti, entah kenpa feellingku mengarah kesana. Kak jhoe setuju mengantar ku dan kamipun minta izin kepada mama, mama hanya berpesan untuk tidak ngebut dan jangan pulang kemalaman.

17.40 Am
Aku dan kak jhoe sampai di pantai, aku mengedarkan pandangan dan yang ku dapati hanya sepi, kak jhoe menghampiri ku dan menunjuk ke suatu sudut di bawah pohon besar ada seorang cowok jangkung tengah duduk di atas bemper mobil sport merahnya sambil melihat kearah kami. Aku mengernyitkan dahi ke arah kak jhoe dia hanya tersenyum dan mengusirku dengan mensuhsuhkan aku seperti anak ayam, aku berjalan menghampirinya semakin dekat semakin jelas, aku pernah bertemu dengannya! Tapi dimana ? Setelah aku di hadapannya aku mengingatnya dia Riyan.

Aku hanya terdiam disebelahnya, mendengarkan ia berkisah, hatiku mulai gelisah karna sejujurnya hati kecilku mulai merasa nyaman dengan seseorang yang selalu memberikanku kebahagia-bahagiaan kecil itu, ia yang sudah membuatku bersemangat di pagi hari, membuatku meledak-ledak dan tersenyum-senyum sendiri. Tapi kenapa orang itu bukan fahri ? Kenapa harus Riyan ? Aku tak pernah mengenalnya tapi kenapa aku merasa dia sangat dekat ? Hufht aku lelah memikirkannya.

“kamu gak marah kan ?” tanyanya
“Ehh nggak kok yan, memang kenapa?” aku balik bertanya
“kamu diam terus dari tadi, aku kira kamu marah” ucapnya sambil tersenyum, aku hanya balas tersenyum juga ke arahnya

“aku mengagumi mu bagai matahari menyinari bumi zee, hangat, terang, namun takkan pernah menyentuh bumi” desahnya di penghujung senja kami

“Sejak kapan yan?” tanya ku
“sejak saat itu, aku tak sengaja melihat mu menangis di balkon kamar mu 4 tahun lalu, kamu begitu rapuh, hingga aku ingin memeluk mu, menjaga mu dan bilang kalau semuanya akan baik-baik saja” “tapi ternyata aku tak seberani itu zee” sambungnya

“lalu kenapa kamu berani saat ini?”
“malam itu di rumah fahri saat kamu menangis di pelukanya aku benar-benar takut, aku takut tak memiliki kesempatan untuk bisa menyatakan semuanya zee”

“lalu..?”
“jhoe menyarankan ku untuk melakukan ini semua!”
“kak jhoe ?” pekik ku
“Ya, jhoe sahabat ku dari smp” “ dia orang yang paling mengerti aku selama ini”
“tapi kenapa kak jhoe gak pernah bilang?”

“aku yang gak ngizinin dia bilang ke kamu zee, karna aku takut rasa itu hanya rasa kasihan atau rasa seorang kakak ke adeknya” “ ternyata aku salah zee, rasa ini lebih dari itu semua”

“kamu tau kan aku dan fahri..” kata-kata menggantung
“aku tau zee..” “datanglah kepada ku zee, jika kamu merasa rapuh lagi nanti dan jika fahri bukan orang yang mampu membuat mu bahagia” kata-kata terakhir dari riyan terus terbayang dalam perjalanan pulang ku, sebenarnya aku ingin minta pendapat kak jhoe, tapi …

“kamu kenapa zee ?” pertanyaan kak jhoe membuatku terkejut, aku hanya menoleh kepadanya, dan menghembuskan nafas pelan “ kakak pasti tau apa yang terjadi” dengus ku kesal, dan kami menghabiskan sisa perjalanan pulang dengan diam.


23:35 pm

Aku belum bisa memejamkan mata, aku mencoba menelvon fahri berkali-kali namun tak ada jawaban, ia juga belum.pulang dari sore tadi. Aku menghempaskan tubuhku ke ranjang memejamkan mata sejenak berusaha menelaah apa yang terjadi hari ini, aku mengingat satu kalimat riyan tadi sore *aku sudah memberi kode disetiap kartu ucapan yang aku berikan* aku langsung bangkit, mengumpulkan semua hadiah yang pernah aku terima lalu aku urutkan setiap kartu ucapan yang ada pada setiap hadiah dan mulai membacanya satu persatu. Aku langsung menutup bibirku, kenapa aku tidak menyadarinya setiap kartu ucapan terdapat 1 huruf abjad besar di pojok kartu, dan jika di urutkan akan menjadi sebuah nama yaitu *R.I.Y.A.N* kenapa aku sangat bodoh? Banyak pertanyaan kenapa di otak ku yang membuat kepalaku sedikit pening.

Aku mencoba menelfon fahri lagi dan kali ini diangkat dia bilang dia sangat lelah jadi aku tidak bertanya lebih lanjut dan menyuruhnya untuk istirahat, tak terasa sebulir air mata turun perlahan dari kelopak mataku, rasanya sangat sesak! Aku sangat menyayangi fahri tapi entah kenapa aku mulai kecewa dengan sikap dinginnya dan mulai memikirkan riyan. Aku menatap boneka beruang di hadapanku menatapnya dalam, dan aku temukan tatapan Riyan yang penuh kasih sayang disana, aku peluk boneka beruang itu dan tanpa terasa aku tertidur dalam dekapan boneka beruang riyan.


08:07

Aku baru terbangun dari tidurku, uhh rasanya kepalaku berat mungkin efek dari terlalu banyak menangis tadi malam. Aku bangkit dan mulai mengecek handphoneku ada beberapa pesan WA aku mencari pesan dari fahri dan ia mengatakan hari ini ia akan pergi dengan temannya, huh aku menghela nafas dan melemparkan ponselku ke atas ranjang.

Setelah mandi dan keramas aku merasa lebih segar, akupun keluar dari kamar dan mendapati papa sedang menonton tv dengan mama aku menghampiri mereka dan memeluk papa dengan manja.

“anak papa kenapa nih ma ?” tanya papa pada mama
“Lagi jatuh cinta mungkin pa ..” canda mama sambil tergelak
“Mama…” rajuk ku

“Kamu gak mau sarapan sayang?” tanya mama, dan aku balas dengan gelengan kepala karna aku rasa aku tak ingin makan hari ini, aku mencari kak jhoe dimana dia apa dia sudah pergi sepagi ini dihari minggu ? Atau dia masih molor?.

“ma kak jhoe mana?” tanyaku akhirnya
“Kamu gaktau zee?” papa balik bertanya
“Tau apa…?” aku mengernyitkan dahi menatap kedua orang tuaku

“Sayang…” “kakak kamu bakal pindah kuliah ke china dia dapat beasiswa penuh disana, makanya dia sedang mengurus semuanya karna bulan depan ia harus segera berangkat atau beasiswanya akan dicabut” terang mama, aku terbelalak

“zee mau ikut kakak juga” kataku mantap! Papa menatapku heran mama juga tak kalah heran
“Kenapa ?” tanya papa

“kalau kakak ke china zee juga harus ke china pa! Zee gak mau kakak jadi lebih hebat dari zee pa!” aku berlasan “jadi papa mau kan kalau zee kuliah disana juga ?” pintaku

“Papa sih, oke” “kamu mau kemana saja papa bakal dukung” kata papa, aku menatap mama
“mama sih ikut kata papa aja” kata mama akhirnya aku melonjak senang dan memeluk mereka berdua seraya berkata “zee sayang papa mama” mereka hanya tersenyum melihatku begitu gembira.

12.00
Aku tengah bermain-main dengan boneka beruang riyan sebelum suara pintu kamarku yang terbanting sukses membuat aku menoleh dan mendapati kak jhoe dengan wajah seram tengah berdiri dan menatap tajam kearahku.

“kakak kenapa?” tanyaku bergetar
Ia melangkah masuk dan menghempaskan tubuhnya di bedku menutup wajahnya dengan telapak tangan dan bangkit duduk menghadapku yang bingung dengan situasi ini, aku melihat setitik bercak darah disudut bibirnya. Aku mengusapnya dan ia merintih aku takut sangat takut.

“kakak kenapa?” tanyaku lagi, dan ia langsung memelukku erat, aku bisa merasakan nafasnya yang terengah-engah, setelah nafasnya kembali normal ia melepaskan pelukanku dan mulai bicara.

“ zee kakak sayang banget sama kamu, kakak nggak akan rela ada satu orangpun yang nyakitin adek kakak” ucapnya terputus “kakak mau kamu putus dengan fahri, dan mulai mempertimbangkan riyan” ucapan kak jhoe sukses membuatku terbelalak, aku tau dia teman riyan tapi dia harusnya lebih memikirkan orang yang benar-benar aku sayang daripada berusaha menjodohkan aku dengan temannya.

“tapi kak…”
“zee pleasee..” belum selesai kak jhoe bicara aku melihat sebulir air mata jatuh dari matanya, pertama kali aku melihat seorang jhohand menangis karna mengkhawatirkan aku?. Ia merogoh saku celananya mengeluarkan handphonenya, dan memberikannya padaku. Lalu ia beranjak setelah mengecup ubun-ubunku, sebelum ia menutup pintu kamarku ia berkata “keputusan kamu ikut ke china bersama kakak adalah keputusan yang tepat zee”


14.35

Aku masih bingung ada apa dengan kak jhoe? Aku juga belum membuka handphonenya dari tadi, entah kenapa aku terlalu takut untuk melihat apa yang ingin kak jhoe tunjukan kepadaku.

Akhirnya setelah mengumpulkan keberanian aku buka handphone kak jhoe dan yang pertama aku dapati adalah sebuah vidio, aku tekan tombol play dan yang kudapati.. aku menutup mulut tak percaya, itu vidio fahri yang tengah berciuman dengan seseorang wanita yang tidak aku kenal! Tanpa kusadari air mata mulai membanjiri kedua belah pipiku, aku langsung menon aktifkan hp kak jhoe dan menangis sejadi-jadinya memeluk boneka riyan lagi.

Aku berjanji pada diriku sendiri untuk mengakhiri hubunganku dengan siapapun itu baik fahri maupun riyan.


26 Agustus 2016

Hari ini hari ulang tahunku yang ke 20 tak terasa aku sudah dewasa tahun ini aku sedang menyelesaikan skiripsiku dan akan wisudah akhir tahun ini, akhirnya. 3 tahun berlalu begitu cepat disini, aku baru selesai mandi saat ku dapati sebuah message dari kak jhoe *temui aku di cafe biasa kita dinner malam ini* aku bahagia memiliki kakak sepertinya, dia menyayangiku melebihi dia menyayangi mira pacarnya.

Aku keluar berniat sarapan saat ku buka tudung saji aku tak mendapati roti tawar yang selalu ada diatas meja, melainkan sebuah kotak berukuran lumayan besar berwarna cream dan berpita pink, aku buka kotak tersebut dan mendapati ada sepotong gaun berwarna biru muda yang sangat indah dengan manik-manik di bagian dada, ada sepucuk surat di gaun itu aku membaca pesan yang tertulis disana *gunakan gaun ini, ingat tepat jam 6 kamu harus sudah datang ya* oh kak jhoe, dia melebihi pacarku, heheeh pacar ? Aku rasa aku bukan milik siapa-siapa saat ini.

Semenjak aku memutuskan ikut dengan kak jhoe kesini aku memilih untuk tidak memikirkan fahri ataupun riyan, aku memutuskan hubunganku dengan fahri dan tak ingin menghubungi riyan lagi, ya.. Perkataan kak jhoe benar, aku datang ke sini bukan karna tulus ingin kuliah disini bersamanya, namun hanya ingin lari dari semuanya.


17.56 pm

Aku sudah berada di ambang pintu cafe tempat aku akan bertemu dengan kak jhoe, aku masuk kedalam cafe dan mengatakan ke resepsionis untuk mengantarkanku ke meja yang sudah di pesan atas nama jhoehand pratama, seorang pelayanpun mengantarkan ku ke meja di dekat jendela besar yang langsung memberikan pemandangan indah diluar, aku menunggu kak jhoe yang masih belum datang, aku heran kemana dia sejak pagi aku tak melihatnya pulang ke apartemen dan sekarang ia terlamabat.

“Happy birthday sayang” bisik seseorang dari belakangku, aku menoleh dan mendapati kak jhoe yang tersenyum sambil memegang sebuah kue tart berukuran sedang berwarna putih dan coklat dengan lilin berangka di atasnya, aku tersenyum dan memeluk lehernya, denganya saja aku sudah bahagia.

“ditiup dong lilinnya zee..” pinta kak jhoe setelah ia meletakkan kue di meja dan duduk di hadapanku, beberapa pasang mata menatap kami, mungkin mereka berfikir kami adalah pasangan kekasih.

“Iya kak bentar zee mau buat permohonan dulu” sahutku seraya menutup mata dan mulai membuat permohonan, setelah itu akupun meniup lilin angka 20 di atas kueku.
“Apa yang kamu pinta zee ?” tanya kak jhoe
“ihh kakak kepo ya” ledek ku

“Cuma pengen tau aja zee” dengusnya “ kasih tau donk..” rengeknya, aku tertawa melihatnya yang sangat tampan dengan tuksedonya malam ini.
“seseorang..” desisku

“apakah orang itu aku ?” sebuah pertanyaan dari orang di belakang ku yang menyodoriku sebucket whiterose, aku menoleh dan mendapati wajah yang tak asing bagiku.
“Riyan …?” aku terkejut, dia hanya tersenyum, senyumnya yang teduh, aku melotot ke arah kak jhoe dan ia hanya terkekeh.

“kamu gak suka aku disini?” tanya Riyan
“Bukan gitu yan.. Tapi..” kataku menggantung

“tapi apa ?” tanyanya “tapi kamu merindukanku?” tanyanya lagi sambil tersenyum, aku tersipu dan menunduk untuk menyembunyikan semburat merah di wajahku.

“Aku masih menunggu kamu datang kepadaku zee..” tuturnya “dan aku berharap kamu akan menujuku suatu saat nanti” tambahnya, jantungku berdetak tak tentu, aku tak pernah merasakn ini sebelumnya, dengan fahri pun tak seperti ini, apakah ini cinta ?.

Malam itupun berlalu dengan indah, entah mengapa hatiku mulai merasakan seperti ada ribuan bunga yang bermekaran, apakah aku jatuh cinta ? Lalu dengan fahri ? Apakah itu bukan cinta? Aku bertanya pada kak jhoe sesampainya di apartemen, kak jhoe tergelak mendengar ceritaku, akupun menjitak pelan kepalanya ia mengaduh, lalu berujar

“jika kamu merasakan seperti itu zee berarti kamu memang jatuh cinta kepada Riyan, dan soal fahri aku rasa itu bukan cinta zee..”

“lalu itu apa kak ?”
“mungkin hanya sekedar rasa sayang, karna kalian terbiasa bersama sejak kecil..” ucapan kak jhoe aku telaah dan mungkin ada benarnya.
“masih ada satu pertanyaan yang harus kakak jawab”
“apa?” tantangnya

“aku masih penasaran kenapa ada darah di ujung bibir kakak waktu kakak memberi tahuku tentang kebohongan fahri ?, atau jangan-jangan.. luka itu.. fahri…”
“bukan..” sahut kak jhoe memotong perkataanku “luka itu dari rian”

“ hah???” aku terlonjak “ya, luka itu dari riyan, jadi dia tau kakak mulai curiga dengan kelakuan fahri yang selalu keluyuran dan pulang malam. Hari minggu itu kakak sengaja keluar pagi-pagi sekali untuk menyelidiki fahri, dan ternyata rian tau. diam-diam dia mengikuti kakak, lalu saat kakak tengah merekam aksi fahri dan wanita itu riyan datang dan langsung menghajar kakak”

“alasan riyan menghajar kakak?”
“dia nggak mau kamu terluka lagi karna tau yang sebenarnya tentang fahri, untung aja hp kakak waktu itu terselamatkan, kalau nggak mungkin kamu akan merengek minta di nikahi fahri dan kakak akan membuangmu dan nggak akan nganggap kamu adek kakak lagi” penjelasan kak jhoe membuatku lega, akhirnya terjawab sudah semua yang berkecamuk difikiranku selama ini.

“Hey kamu gak usah mikir aneh-aneh ya selesaikan skripsi biar kamu cepet wisudah dan kita cepet pulang, aku udah gak sabar pengen nikah sama mira” katanya sambil tersenyum-senyum sendiri, aku yang gemas mendengar perkataannya melemparnya dengan bantal sofa dan berlari ke kamar agar dya tak bisa mengejarku.

“Awas kamu zee, aku gak akan ngasih kamu makan 1 minggu” umpat kak jhoe yang aku tak hiraukan, aku lebih memilih untuk menatap langit china yang kelihatan begitu cerah malam ini, aku mengingat perkataan Riyan *aku akan melamarmu setelah pernikahan jhoe, suka atau tidak itu yang akan aku lakukan agar kamu tau bahwa aku tak hanya sekedar membual tentang perasaan ini tapi aku sungguh-sungguh* aku tersenyum sendiri mengingatnya, akupun menutup pintu balkon dan mulai menghempaskan diri ke atas ranjang, sedetik kemudian akupun telah memasuki alam mimpiku yang indah.

29 Agustus 2018
20.00 pm

“Kamu tau sayang ?” “aku bahagia bisa mendampingimu dimanapun kamu sekarang” kataku kepada suamiku yang tengah memelukku sambil menerawang ke langit luas, kami sedang menatap langit china di balkon sebuah hotel.

“masak ?” candanya, aku mencubit pinggangnya dan ia mengaduh
“Kamu ngerusak moodku” dengusku, ia tersenyum dan menatap ke arahku
“kamu tau kenapa aku suka gerimis ?” tanyanya
“Nggak..” sahutkh masih sedikit kesal
“Karna bagai gerimis, aku jatuh perlahan kepadamu”  kata Rian menyentuh hati terdalam ku

Aku menatapnya dalam hanya ketulusan yang ada disana, aku memeluknya lebih erat, ia mencium keningku lembut, saat ini aku tau ialah orang yang tepat untuk hatiku, ialah pemilik separuh dari nafasku.

The end

Cerita Gerimis
Gerimis itu hujan yang hati-hati
Ia ingin jatuh perlahan ke bumi
Agar tak terlalu sakit
Ia datang bersama kelabu
Saat awan ragu untuk menjadi hitam atau putih
Jikalau aku setitik air hujan
Aku akan memilihmu untuk kuhujami
Tapi
Aku ini gerimis
Tipis, pelan membasahi
Jangan berteduh! Aku takkan menyakiti
Tengadahkan tanganmu, terimalah aku
Awan mengirim gerimis
Tuk membelai bumi
Seperti aku, mengirim do’a dan Rindu untukmu
Gerims dan suaramu
Melodi apa lagi yang lebih menenagkan dari itu ?
Tidak ada yang lebih manis dari sebersit senyum.di balik gerimis
Seperti gerimis aku jatuh perlahan kepadamu
Riyandra aditya

Karya : Juliia Sari Indah F_