Cerpen Oleh Julia Sari Idah F.
Dikirim 03/03/19

Aku menghempaskan tubuh ke sofa kantor, tak menghiraukan tatapan aneh orang-orang yang tertuju kepadaku, aku menutup wajahku dengan majalah yang berserakan di atas meja, lagi-lagi gagal. Huft.
“ ndah..” panggilan dimas sukses membuat ku mengangkat majalah dan bangkit dari tidurku, ia duduk dihadapanku, menatap lurus kearahku yang sangat acak-acakkan.
“kamu kenapa?” tanyanya “gagal lagi?”
“seperti yang kamu liat…” jawabku sekenanya
“ndah.. bukannya aku nggak yakin kamu bisa melakukan pekerjaan ini, tapi apa nggak sebaiknya aku minta bantuan yang lain juga buat kerjasama sama kamu ?” tanya dimas dengan nada khawatir
Akhh sial aku benci dikasihani “nggak dim makasih, aku bisa sendiri, aku pasti bisa ngelakuinnya” kataku seraya bangkit, menepuk pundaknya dan berkata “gag usah cemas yakin aja secepatnya aku bakal dapat wawancara exslusif bintang” senyum yang aku paksakan sukses membuat dimas menyerah dan diam menatapku yang berlalu masuk keruanganku.
***
17:00
“ndah..” pintu terbuka dan aku menoleh
“ eh dimas, masuk” kataku tanpa menoleh kepadanya, aku tengah fokus pada layar komputer, mencari tau tentang jadwal syuting bintang. Artis yang saat ini tengah naik daun, jika kalian bertanya kenapa aku berusaha keras dapat mewawancarainya. bukan karna honor yang akan kudapat, tapi aku hanya ingin tau apakah ia masih mengingatku. Seorang bocah 10 tahun yang selalu berlari dan bermain di bukit belakang kompleks bersamanya 12 tahun yang lalu.
“kamu belum pulang?” pertanyaan dimas membuyarkan lamunanku tentang bintang
“eh bentar lagi” sahutku “kamu kenapa belum pulang?”
“tadi pak kasmin bilang kalau lampu ruangan kamu masih nyala, jadi aku kesini takutnya kamu ketiduran dikantor lagi kayak minggu lalu” jelasnya. Aku hanya mengangguk-anggukan kepala, men shut down komputer di meja kerjaku dan membereskan isi tasku yang berantakan di meja.
“ayo pulang” ajakku ke dimas yang sedari tadi sibuk memperhatikanku, entah sejak kapan dia punya hoby menguntit dan memperhatikan semua kegiatanku, dia malah terlihat seperti bos yang kurang kerjaan. Hahaha, kenapa aku malah memikirkan dimas?, sedetik kemudian aku tersentak karna dimas menggengam tanganku dan menarikku hingga parkiran, membukakan pintu untukku dan ahh, kenapa dia semakin aneh akhir-akhir ini? Entahlah.
“kamu nggak mau makan dulu?” tanyanya saat kami sudah keluar dari parkiran
“nggak deh dim, aku mau pulang aja aku capek” kataku
“kamu beneran nggak apa-apa khan ndah?” tanyanya
“emangnya aku keliatan nggak baik-baik aja” tanyaku sambil mencondongkan wajahku kearahnya, ia menoleh kearahku dan langsung memalingkan wajahnya kearah jendela mobil. Segitu kacaunya kah aku? Hatiku berkecamuk “kenapa?” tanyaku
“jangan deket-deket kayak gitu”
“emang kenapa, nggak boleh?” tanyaku heran
“ya nggak boleh lah, aku ini cowok tau, kalau kamu kecentilan kayak gitu nanti aku khilaf”
“bwahahahahahahahaha” perkataan dimas sukses membuatku tergelak hingga meneteskan air mata “sejak kapan kamu jadi cowok dimataku dim?” dimas hanya terdiam, tak seperti biasanya dia seperti ini, aku sudah kenal dimas dari kelas 1 smp dan aku tau bagaimana dia selama ini. Ia menatapku dengan tatapan yang entahlah aku tak pernah melihat ekspresi itu. Akupun terdiam “ups sorry dim, aku gag maksud..”
“nggak apa-apa kok” katanya memotong kata-kataku yang sukses membuat suasana canggung diantara kami hingga ke kostku.
***

Esoknya
Aku sudah stand by di depan rumah bintang dari pukul 04.00 subuh, ada banyak wartawan disini mulai dari wartawan majalah seperti aku sampai wartawan televisi. Sepertinya bintang memang sudah menjadi bintang sekarang seperti mimpinya dulu ingin menjadi bintang yang bersinar.
Aku duduk di bawah pohon dekat pos satpam, mengipas-ngipas wajahku dengan buku kecil yang selalu aku pegang untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu yang penting yang harus aku tulis. Aku melirik sekilas jam tanganku yang menunjukanpukul 09.53 sudah banyak wartawan yang menyerah dan pulang ke kantor mereka masing-masing dan belum ada tanda-tanda bintang keluar dari rumahnya, iseng aku melangkah kearah pos satpam dan bertanya
“pak non bintangnya nggak ada jadwal keluar rumah gitu ?” tanyaku pada salah seorang satpam, satpam itu menoleh kearahku lalu ia berbisik dengan teman sebelahnya, dan ia menggeleng pelan. Aku tak kehabisan akal
“bapak tau nggak makanan kesukaan non bintang?” tanyaku sekenanya, satpam itu menoleh dan berujar “ neng nggak usah mancing-mancing kita deh buat ngebocorin apapun tentang non bintang ye, kita mah nggak mempan mauu disogok juga nggak bakalan mempan neng” kata-kata satpam itu sontak membuat ku tertawa, dan membuat mereka bertatapan kebingungan.

“bapak-bapak nih pada nggak tau kan makanya ngomong kayak gitu ya” “hahahaha”
Mereka menatapku jengkel, dan berkata “neng nggak usah mancing-manncing deh, kita bukan ikan neng yang gampang terpancing sama umpan cacing”
Nyolot juga fikirku, tapi aku nggak kehabisan akal “saya tau dulunya non bintang kan tinggal dibogor sampai ayahnya meninggal dan ibunya menikah lagi dengan seorang sutradara makanya non bintang bisa jadi artis kayak sekarang” kataku sambil membuang muka sok cuek, mereka langsung menatapku. ‘yes berhasil’ gumamku , sepertinya mereka mulai terpancing dengan kata-kataku yang barusan.
“neng tau darimana?” bisik salah seorang satpam yang dari tadi hanya diam saja
“saya tau semuanya pak” balasku sambil berbisik
“neng nggak ada niat buat nyebarin berita itu kan?” tanyanya masih dengan berbisik, aku tau kenapa satpam ini sangat berhati-hati karna dulu pernah ada berita seperti ini, lebih tepatnya dulu diberitakan bahwa bintang adalah anak adopsi bukan anak kandung dari pak sutradara wijaya dan tentu saja berita itu langsung ditampik oleh pihak keluarga ayah tiri bintang, dan aku tau semuanya demi kelangsungan karir keduanya.
“saya janji nggak akan nyebarin berita ini dengan syarat” kataku dengan nada setengah mengancam
“wah si eneng ngancem nih” celetuk satpam satunya yang dari tadi hanya menyimak obrolan aku dengan patner kerjanya. Aku menyeringai
“saya nggak minta permintaan yang sulit kok pak” “saya tau bapak bukan jin biru aladin dan nggak akan bisa menuhin permintaan saya kalau sulit” kataku sambil tersenyum-senyum sendiri. Aku menuliskan sederet nomor di kertas dan mencantumkan namaku, dan selarik tulisan ‘aku ingin bersinar seperti bintang di atas sana ndah, agar nanti walaupun kita jauh kamu tetap bisa melihat sinarku’. Aku serahkan kertas tadi dan berpesan “kasih ini ke non bintang, makasih pak” aku melangkah menjauh tak menghiraukan tatapan heran dua satpam tersebut.
***

11.23
Aku keluar dari warung kecil dipinggir jalan dekat kompleks perumahan rumah bintang, dan mendapati sebuah mobil pajero hitam metalik disebrang jalan, aku tak begitu heran dengan mobilnya, aku lebih tertarik dengan orang yang bersandar di samping mobil yang tengah menatap lurus kearahku dengan wajah khawatir. ‘hahahaha indah siap-siap kau diterkam serigala lapar’ kataku didalam hati, aku menyebrang jalan menghampiri orang yang tengah menatapku dengan pandangan entahlah, akupun tak mengerti.
“hai dim, kamu ngapain disini?” tanyaku dengan senyum yang aku paksakan.
“masuk..” katanya
“tapi dim..”

“aku bilang masuk ya masuk..” katanya dengan nada keras, aku tertegun tak biasanya dia sekeras ini, mungkin dia benar-benar marah, habislah aku. Tanpa banyak bertanya aku langsung masuk kedalam mobil, aku mendengar dia menghembuskan nafas berat dan menyusulku masuk kedalam mobil.
30 menit kami di dalam mobil dan tidak ada suara sedikitpun diantara kami, aku benci keheningan seperti ini, tapi aku juga terlalu takut untuk berbicara duluan, aku tau dimas sangat marah hingga dia tak mau bicara denganku. dimas terus melajukan mobilnya ketempat yang sebelumnya aku tak tau hanya ada banyak pohon di samping kiri dan kanan jalan, ah sudahlah ikuti saja dia itu lebih baik.
***

02.30
Dimas menepikan mobilnya di sebuah danau, aku baru tau kalau ditempat ini ada danau yang seindah dan setenang ini, aku ingin  keluar dari mobil tapi ngeliat ekspresi dimas yang sepertinya akan meledak membuat aku duduk diam di dalam mobil. Sedetik kemudian dimas menatapku dan langsung keluar dari mobil dengan membanting keras pintu mobih. Hufth kesabaranku sudah habis, aku keluar dari mobil dan menghampirinya yang tengah bersandar di samping mobil dengan menatap kearah danau yang kehijauan.
“dim, kamu kenapa sih ?” tanyaku dengan nada galak, dya menoleh dan menatapku dengan tatapan marah, aku menciut, mengatupkan bibir rapat-rapat dan memalingkan wajah. Tiba-tiba  dimas merangkulku dari belakang membalikkan tubuhku dan langsung menenggelamkan aku dipelukannya, aku hanya diam saat dia terus memelukku dengan erat aku dapat mendengar deru nafasnya yang berat.
“aku khawatir sama kamu ndah, kamu nggak ada dari pagi pas aku jemput ke kost dan berlanjut kamu nggak ada dikantor udah cukup bikin aku kalang kabut mikirin kamu ndah.. kamu harus tau ndah..” kata-kata dimas menggangtung, ia menghela nafas berat sebelum akhirnya melanjutkan kata-katanya “ kalau aku sayang sama kamu ndah.. ntah itu dari kapan yang jelas makin kesini aku makin nggak mau jauh dari kamu” aku tersentak, lalu menjauh perlahan dari dimas, membalikkan badan dan mengambil langkah 1000 untuk menjauh dan mulai berlari benar-benar menjauh dari dimas.
***

05:33
Aku sudah dikantor, menghela napas untung saja raka teman sekantorku mau menjemputku di tempat aku bersembunyi dari dimas, ia masih belum keliatan dikantor, aku mengepak semua barang yang sekiranya kau butuhkan, aku butuh istirahat, aku putuskan untuk mengajukan cuti dan cepat-cepat pulang ke bogor.
***
3 hari kemudian.
Sudah 3 hari aku berada di bogor, menjalani rutinitas tanpa wawancara, komputer, ataupun atasan aneh seperti dimas. Ngomong-ngomong tentang dimas, dia sepertinya berusaha menghubungiku namun sepertinya selalu gagal karna aku nyaris tidak pernah mengaktifkan handphoneku selama disini, aku hanya ingin menikmati ketenengan kampung kelahiranku, menghirup udara segar dan terus bercengkrama dengan alam.
Knok,,, knok,,,
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku di halaman belakang, sayup-sayup kudengar mbok yem berbicara dengan seseorang. Lalu setelah mempersilahkan masuk mbok yem menghampiriku.
“ada tamunya mbk..” kata mbok yem
“siapa mbok ?” tanyaku
“nggak tau mbk, katanya temennya mbk indah” “mbok bikin minum dulu ya”kata mbok yem seraya berlalu
Aku yang penasarn melangkah keluar menemui orang yang katanya temanku, saat sampai diruang tamu aku melihat seorang pria yang sedang melihat-lihat foto-foto kenanganku di tembok.

“dimas…” ia menoleh dan tersenyum hangat.
“hy ndah.. apa kabar?” tnyanya
“ baik.. kamu tau dari mana rumahku?” tanya ku
“aku baru sampek loh ndah, masak udah ditodong pertanyaan sinis gitu?”
“ohh ehh duduk dim” kataku tergugup, dimas duduk di sebuah kursi rotan dan aku duduk dihadapannya. Kami sama-sama diam seperkian detik.
“sepi ya ndah.. pada kemana?” kata dimas memecah kesunyian
“mamy sama papy ke luar kota, tugas dinas papy disana satu bulan” jawabku tanpa menoleh kearahnya, yang sedang memandangku lekat hingga membuat wajahku memanas
“kamu marah sama aku?” tanyanya, dan aku hanya menggeleng, dia menghela nafas panjang dan tersenyum
“tapi kamu kayak nggak kenal gitu sama aku” dia mengalihkan pandangannya seolah sok acuh dengan tatapan ku yang heran dengan kata-katanya. Aku hanya diam menciptakan keheningan lagi di antara kami
“mbak ini minumnya” suara mbok yem mengagetkanku
“iya bik makasih” sahutku seraya tersenyum pada mbok yem
“diminum mas” kata mbok yem ke dimas, yang di balas dengan senyuman dan anggukan oleh dimas
“mbok kedalem dulu ya mbk”
“iya mbok” kataku, mbok yem pun masuk kedapur
Setelah mbok yem berlalu ke dapur, kami sama-sama diam dan hanya menundukkan kepala
“ndah..”
“dim..”
“kamu duluan” kata dimas
“maaf, waktu itu aku lari gitu aja dari kamu” kataku akhirnya
“nggak apa-apa ndah, aku yang harunya minta maaf”
“dimm.. sebenarnya aku udah mikirin apa yang kamu bilang di danau itu..” kata-kataku terputus
“lalu…” tanya dimas penasaran
“aku…”
“non..” suara mbok yem membuat aku menggantungkan kata-kataku, “ada apa mbok ?” tanyaku melihat pada mbok yem
“ada telpon non, katanya mau bicara sama non indah” kata mbok yem
“iya udah mbok, abis ini indah angkat”
“njeh non” mbok yem berlalu
“aku angkat telpon dulu ya dim” pamitku pada dimas, dimas hanya mengangguk dan menyandarkan tubuhnya di sofa, aku berlalu menuju ruang tengah, menggengam gagang telpon dan menempelkannya di telinga, aku mendengar seorang yang tengah berdendang disebrang sana, dan aku rasa aku tau suara ini….

“halo” suaraku membuatnya berhenti bersenandung
“hai.. indahkan?” tanya seseorang disebrang sana
“ya saya sendiri” “ ini siapa?” tanyaku hati-hati
Suara di sebrang tertawa ringan “kamu lupa sama aku ?” “aku ingin seperti bintang diatas sana ndah.. agar jika kita jauh kamu masih bisa melihatku” deg
“bintang…” lirihku
“kamu pengingat yang hebat” celetuknya “kamu bisa kesini?”
“kerumahmu?”
“ya kerumahku, lebih tepatnya rumah ayah” kata-katanya sangat sulit ku cerna, sedetik kemudian aku mengiyakannya, berjalan ke arah kamar, mengganti pakaian mengambil tas reporter, buku, perekam suara dan bergegas keluar
“dim..” dimas menatapku
“mau kemana ?” tanyanya bingung, aku hanya menariknya keluar masuk ke mobil dan menyuruhnya mengantarku kerumah bintang.
***

3 jam kemudian
Bintang baru saja pamit padaku untuk balik kejakarta, dia tak mau di wawancara dengan alasan ia memanggilku karna dia ingin mengundang sahabatnya, bukan karna dya mau di wawancara, ia sengaja memang tak menelpon saat aku memberikan nomorku 3 hari yang lalu, karna ia tak ingin bertemu denganku sebagai reporter dan bintang besarm, buat dia kita tetap sahabat, walaupun posisi kita mungkin berbeda di depan orang-orang, aku hanya menarik nafas lega saat bahagia dengan hidupnya walau dia bilang cukup sulit. Bintang benar, siapapun kamu, apapun yang kamu lakukan, kamu adalah bintang untuk dirimu sendiri dan orang yang kamu sayang. Deg dimas
Aku berlari kearah bukit tempat tadi ia menungguku mengobrol dengan bintang, ia tengah berdiri mematung menghadap ke arah desa kami yang tentram dan damai. Aku memeluknya dari belakang, aku tau dialah tempat ku pulang saat ini.
“aku menyayangimu dim” kataku yang membuat reaksi tubuhnya semakin tersentak, ia berbalik menghadapku, menatap dalam kearah dua bola mataku, seolah berusaha mencari kebohongan atau kejujuran disana. Sedetik kemudian dia memelukku. Terimaksih Bintang, karnamu aku tau siapa yang pantas aku genggam.