Yaa Rabbi Yaa Malikul Quddusussalam
Bukan masa lampau yang akan kami kubur

Juga tak melambaikan tangan begitu saja
Kami tak menanam niat hitam demikian

Hanya mengikuti arus perjalanan hidup
Bahwasanya ada jembatan lain untuk kami

PADAHAL
Di air yang sama
Kami basuh wajah hingga kaki
Di karpet yang sama
Kami berbaris merapatkan shaf
Menadahkan tangan menyebut namaMu
Sembari bersila, dalam putaran tasbih
Diwaktu itu kami menyebut diri santri
Diasrama itulah kami bernaung bagai keluarga
Berpijak ditanah yang satu demi sekeping ilmu
Asrama suci yang dkelilingi bentangan rahmatMu
Pesantren istiqlal tempat berteduh kami bersama

Bagaimana mungkin kami lupakan..
Saat kami membuka mata bersama disuatu fajar
Lalu lantunan nada ayat – ayatMu kami ramaikan

Bagaimana mungkin kami lupakan..

Paginya kami berlomba-lomba meraih nilai terbaik
Pulangnya kami berlari seraya dorong mendorong
Kemudian kami terbahak melihat sahabat ditegur

Bagaimana mungkin kami lupakan..
Saat saling tukar kopiah, sorban dan sandal
Diwaktu kami nakal dari lubang kecil jendela
Terpaku mengintip santriwati dengan hijabnya

Bagaimana mungkin kami lupakan..

Saat serius dalam aula layaknya ulama besar
Saat fokus melingkar layaknya anggota dewan
Masa-masa itulah yang tak ada didewasa kami

Lillahita’ala rindu kami berbaur malu Rabbi

Malu akan rasa tak mampu untuk membalas
Dari tiap butiran ilmu yang tlah kami gigit
Hanya menghela nafas panjang bila teringat
Hanya meneteskan iarmata bila mengenang

MEMANG RINDU

Rindu akan nuansa barisan shaf kala itu
Rindu duduk bersholawat atas rasulMu
Rindu akan tausyiah pengasuh, guru kami

Aduuuhhhh… Ya Rabbi…

Demi dzat, yang nyawa kami ditangnMu
Beserta daun yang selalu setia bergetar
Menari, menemani mengitari asrama
Ampuni segenap ketidak pedulian kami
Hanya mohon kesejahteraan bagi pesantren

Dan hanya mohon keberkahan bagi kami

Terima kasih istiqlal
Untuk setiap kepingan cerita itu
Terimakasih sahabat istiqlal
Untuk potongan kisah manis itu

Puisi Oleh Irfandi Ditulis 2013