Selasa, Agustus 25, 2026

Puisi : Mimpi

Kiriman puisi pada 29-12-16 dan telah dimoderasi tanggal 29-12-16 Selamat Membaca! Ketika mimpi menghampiriki Dia berpaling menghadap arah Arahnya manis Membuat mimpi terkagum Sedangkan diri hanya bisa tersenyum Semoga mimpi bisa melihay Ketika diri ini menggayung Menuju kemanisan mimpi Hembusan nafas selalu bermimpi Entah.... apakah diri harus menjemputnya Apakah diri harus melangkah ke semesta Untuk menggapainya Ataukah diri ini yang harus memotong arah Agar pagar akan terbuka untuk menggapai mimpi. Karya : Esva
Kiriman puisi pada 29-12-16 dan telah dimoderasi tanggal 29-12-16 Selamat Membaca! Berawal dari diam Berjudi demi sebuah sadar Berharap gelap tumbuhkan terang Dan air hilangkan gersang Beranjak dari diam Aku mulai bermimpi Beranjak dari mimpi Aku mulai melangkah Dan saat aku melangkah Terlihat duri dikakiku Jua panah akan menembusku Dua pilihan untukku Diam tanpa meraihnya Atau berdarah demi mewujudkannya Aku memilih maju meskipun berdarah Karna keyakinan yang membara Merubah Merah akan menjadi putih Dan saat keyakinan berkuasa Asingkan lelah...
Fajar terbit dari ufuk timur serta udara segar nan sehat yang mereflekan tubuh. Nadil duduk didepan rumahnya yang dikelilingi tumbuhan hijau begitu cantik dan ramai. Sekali kali ia menarik nafas dan menghembuskanya lalu tersenyum. Nadil bukan hanya sekedar duduk duduk dipagi hari melainkan ini sudah menjadi rutinitas  dan kegemaran dia mencari imajinasi dalam suasana yang masih alami dan sejuk untuk...
Cerpen Karya Intan Amalia Hartini “Bunda, Melia berangkat dulu ya” (beranjak dari teras langsung berjalan mencari Bunda untuk pamit dan mencium tangannya) ribet nggak dibayangin? Intinya begitulah. “Iya, sering-sering berangkat pagi Mel” kata Bunda sambil melihatku menuju motor. “Jamnya tadi mati Bun, Melia kira udah telat” jawabku sambil menoleh kepada Bunda “ohh…jangan dibelikan baterai ya Mel! Biar kamu berangkat pagi terus” kata Bunda...
Kiriman puisi pada 11-12-16 dan telah dimoderasi tanggal 12-12-16 Selamat Membaca! Aku menahan yang kurasa Aku menangis penuh bisa Tak ingin satu insan mengetahui Tapi inginku dimengerti Sungguh tubuh ini membeku Begitu dingin membawa pilu Dapatkah api membuat panasnya Dalam beku tertancap duka Dalam gejolak berbuih duri Dan dalam hatiku yang mati suri Mengapa aku masih bisu Padahal aku ingin melaju Mengapa aku masi buta Padahal aku sanggup membuka Lalu mengapa aku begitu tuli Padahal lonceng...

Puisi : Ya Allah

Puisi Oleh Irfandi Ditulis : Tahun 2012 Ya Rabb... Bila kaki ini enggan melangkah kerumamhMu Kuatkanlah agar hamba mampu untuk berjalan Bila jari ini tak mampu lagi memegang tasbihMu Kuatkanlah agar hamba mampu untuk berdzikir Ya Allah.. Karna cintaMu Engaku seolah tak melihat keburukan hamba Karna sayangMu.. Engkau seakan biarkan hamba berbuat dosa Ya Allah.. Engkau lihat tahu ulah hamba Dalam menjalani hidup didunia Padahal hamba menyadarinya Akan semua keburukan hamba Maka, Apakah mungkin hamba mampu...
Puisi Oleh Irfandi Ditulis : Tahun 2012 Engkau yang ada yang tak terlihat mata Cukup dirasa yang tak tersentuh jemari Yang amat dekat memegang tabir qalbu Maha melapangkan maha menyempitkan Hamba yang kadang lalai dalam perintahMu Masih diberi nafas untuk melangkahakan kaki Padahal kecilnya hamba ibarat sebutir pasir Jika Engkau murka cukuplah Engkau sentil Namun kebijaksanaaMu yang menahannya Sehingga masih meniti dirantai kehidupan Kehidupan dunia yang amat singkat masanya Wahai dzat yang...
Puisi Oleh Irfandi Ditulis : Tahun 2012 Aku mencoba mengenalmu selayaknya kukenal Seiring waktu bergulir kita tetap seperti ini Entah bagaimana tak ada apa, tak seperti apa Yang ada hanyalah sebatas pertemanan biasa Namun begitu luar biasanya sang maha rahim Dari segala kekurangan dan keterbatasanku Ia menganugrahkan setitik rasa dihidup ini Tentang satu rasa untuk lebih peduli padamu Sehingga aku diberi kesempatan menganalmu Akan tetapi aku tak pernah tau Seperti apa...
Puisi Oleh Irfandi Ditulis : Tahun 2012 Bila dalam sebuah ibadah terdapat aturan Makan cintapun memiliki aturan tersendiri Aturan untuk tak menerobos batas sistem Jalinan kisah suci tanpa ada sentuhan raga Maka maafkan aku.. Ketika aku tak bisa menatap wajahmu lebih lama Dan ketika aku tak mau menyentuh wajah indahmu Hanya bisa berta'aruf menuju bahtera cinta suci Bukan picik, hanya sistem yang tak layak ditawar Maka percayalah.. Demi dzat yang nyawaku...
Yaa Rabbi Yaa Malikul Quddusussalam Bukan masa lampau yang akan kami kubur Juga tak melambaikan tangan begitu saja Kami tak menanam niat hitam demikian Hanya mengikuti arus perjalanan hidup Bahwasanya ada jembatan lain untuk kami PADAHAL Di air yang sama Kami basuh wajah hingga kaki Di karpet yang sama Kami berbaris merapatkan shaf Menadahkan tangan menyebut namaMu Sembari bersila, dalam putaran tasbih Diwaktu itu kami menyebut diri santri Diasrama itulah kami bernaung bagai...
- Advertisement -

Lagi Populer

Lagi Hangat