Kiriman puisi pada 29-12-16 dan telah dimoderasi tanggal 29-12-16
Selamat Membaca!
Ketika mimpi menghampiriki
Dia berpaling menghadap arah
Arahnya manis
Membuat mimpi terkagum
Sedangkan diri hanya bisa tersenyum
Semoga mimpi bisa melihay
Ketika diri ini menggayung
Menuju kemanisan mimpi
Hembusan nafas selalu bermimpi
Entah.... apakah diri harus menjemputnya
Apakah diri harus melangkah ke semesta Untuk menggapainya
Ataukah diri ini yang harus memotong arah
Agar pagar akan terbuka untuk menggapai mimpi.
Karya : Esva
Kiriman puisi pada 29-12-16 dan telah dimoderasi tanggal 29-12-16
Selamat Membaca!
Berawal dari diam
Berjudi demi sebuah sadar
Berharap gelap tumbuhkan terang
Dan air hilangkan gersang
Beranjak dari diam
Aku mulai bermimpi
Beranjak dari mimpi
Aku mulai melangkah
Dan saat aku melangkah
Terlihat duri dikakiku
Jua panah akan menembusku
Dua pilihan untukku
Diam tanpa meraihnya
Atau berdarah demi mewujudkannya
Aku memilih maju meskipun berdarah
Karna keyakinan yang membara
Merubah Merah akan menjadi putih
Dan saat keyakinan berkuasa
Asingkan lelah...
Fajar terbit dari ufuk timur serta udara segar nan sehat yang mereflekan tubuh.
Nadil duduk didepan rumahnya yang dikelilingi tumbuhan hijau begitu cantik dan ramai. Sekali kali ia menarik nafas dan menghembuskanya lalu tersenyum. Nadil bukan hanya sekedar duduk duduk dipagi hari melainkan ini sudah menjadi rutinitas dan kegemaran dia mencari imajinasi dalam suasana yang masih alami dan sejuk untuk...
Cerpen Karya Intan Amalia Hartini
“Bunda, Melia berangkat dulu ya” (beranjak dari teras langsung berjalan mencari Bunda untuk pamit dan mencium tangannya) ribet nggak dibayangin? Intinya begitulah.
“Iya, sering-sering berangkat pagi Mel” kata Bunda sambil melihatku menuju motor.
“Jamnya tadi mati Bun, Melia kira udah telat” jawabku sambil menoleh kepada Bunda
“ohh…jangan dibelikan baterai ya Mel! Biar kamu berangkat pagi terus” kata Bunda...
Kiriman puisi pada 11-12-16 dan telah dimoderasi tanggal 12-12-16
Selamat Membaca!
Aku menahan yang kurasa
Aku menangis penuh bisa
Tak ingin satu insan mengetahui
Tapi inginku dimengerti
Sungguh tubuh ini membeku
Begitu dingin membawa pilu
Dapatkah api membuat panasnya
Dalam beku tertancap duka
Dalam gejolak berbuih duri
Dan dalam hatiku yang mati suri
Mengapa aku masih bisu
Padahal aku ingin melaju
Mengapa aku masi buta
Padahal aku sanggup membuka
Lalu mengapa aku begitu tuli
Padahal lonceng...
Puisi Oleh Irfandi
Ditulis : Tahun 2012
Ya Rabb...
Bila kaki ini enggan melangkah kerumamhMu
Kuatkanlah agar hamba mampu untuk berjalan
Bila jari ini tak mampu lagi memegang tasbihMu
Kuatkanlah agar hamba mampu untuk berdzikir
Ya Allah..
Karna cintaMu
Engaku seolah tak melihat keburukan hamba
Karna sayangMu..
Engkau seakan biarkan hamba berbuat dosa
Ya Allah..
Engkau lihat tahu ulah hamba
Dalam menjalani hidup didunia
Padahal hamba menyadarinya
Akan semua keburukan hamba
Maka,
Apakah mungkin hamba mampu...
Puisi Oleh Irfandi
Ditulis : Tahun 2012
Engkau yang ada yang tak terlihat mata
Cukup dirasa yang tak tersentuh jemari
Yang amat dekat memegang tabir qalbu
Maha melapangkan maha menyempitkan
Hamba yang kadang lalai dalam perintahMu
Masih diberi nafas untuk melangkahakan kaki
Padahal kecilnya hamba ibarat sebutir pasir
Jika Engkau murka cukuplah Engkau sentil
Namun kebijaksanaaMu yang menahannya
Sehingga masih meniti dirantai kehidupan
Kehidupan dunia yang amat singkat masanya
Wahai dzat yang...
Puisi Oleh Irfandi
Ditulis : Tahun 2012
Aku mencoba mengenalmu selayaknya kukenal
Seiring waktu bergulir kita tetap seperti ini
Entah bagaimana tak ada apa, tak seperti apa
Yang ada hanyalah sebatas pertemanan biasa
Namun begitu luar biasanya sang maha rahim
Dari segala kekurangan dan keterbatasanku
Ia menganugrahkan setitik rasa dihidup ini
Tentang satu rasa untuk lebih peduli padamu
Sehingga aku diberi kesempatan menganalmu
Akan tetapi aku tak pernah tau
Seperti apa...
Puisi Oleh Irfandi
Ditulis : Tahun 2012
Bila dalam sebuah ibadah terdapat aturan
Makan cintapun memiliki aturan tersendiri
Aturan untuk tak menerobos batas sistem
Jalinan kisah suci tanpa ada sentuhan raga
Maka maafkan aku..
Ketika aku tak bisa menatap wajahmu lebih lama
Dan ketika aku tak mau menyentuh wajah indahmu
Hanya bisa berta'aruf menuju bahtera cinta suci
Bukan picik, hanya sistem yang tak layak ditawar
Maka percayalah..
Demi dzat yang nyawaku...
Yaa Rabbi Yaa Malikul Quddusussalam
Bukan masa lampau yang akan kami kubur
Juga tak melambaikan tangan begitu saja
Kami tak menanam niat hitam demikian
Hanya mengikuti arus perjalanan hidup
Bahwasanya ada jembatan lain untuk kami
PADAHAL
Di air yang sama
Kami basuh wajah hingga kaki
Di karpet yang sama
Kami berbaris merapatkan shaf
Menadahkan tangan menyebut namaMu
Sembari bersila, dalam putaran tasbih
Diwaktu itu kami menyebut diri santri
Diasrama itulah kami bernaung bagai...





























