PC IPNU IPPNU Tabanan berkomitmen untuk memperingati hari bersejarah ini dengan kegiatan yang tidak hanya mengedukasi tetapi juga memperkuat semangat santri di kalangan IPNU IPNU.
Ziarah yang merupakan tradisi Amaliah NU tentu menjadi pelajaran penting bagi rekan rekanita IPNU & IPPNU Kabupaten Tabanan, disamping menambah pengetuhuan juga memberikan bekal berupa motivasi kepada pengurus agar selalu peduli terhadap ulama-ulama yang telah mensyi’arkan ajaran ahlussunnah wal jamaah an nahdliyah khususnya di pulau Bali.
Perjalanan dimulai dari Parkir Masjid Al-Muhajirin Bukit Sanggulan Indah Tabanan pada jam 08.00 Wita, diawali dengan do’a bersama yang dipimpin oleh rekan Faruqi, tiba di Kebun Raya Bedugul sekitar jam 09.00 Wita. dan dilanjutkan dengan menempuh jalur pendakian dengan berjalan kaki menuju makam yang berada di puncak gunung tapak selama 3 jam perjalanan
Makam wali pitu yang berada di Desa Candikuning II, Tabanan tersebut memiliki keunikan tersendiri dikarenakan lokasinya yang berada di ketinggian 1.909 Meter diatas Permukaan Laut (MDPL) membuat para jama’ah yang akan menziarahi makam tersebut harus mempersiapkan tenaga yang extra untuk bisa sampai dilokasi makam, yang pada akhirnya bisa sekalian mendapatkan pengalaman wisata religi.
Ketua PC IPNU Tabanan, Muhammad Zuhro Faruqi menjelaskan maksud dan tujuan diadakannya ziarah ke makam Waliyullah itu adalah untuk bertawasul kepada Allah melalui para kekasih Allah untuk mengharapkan barokah Nya, mendo’akan para Auliya’ dan Tabarukkan
“Ziarah ke makam untuk ngalap berkah juga i’tibar atau menambah ilmu pengetahuan agar rekan rekanita semakin cinta dengan ulama, karna Habib Umar Bin Maulana Yusuf Al-Maghribi ini adalah Wali Allah yang telah menyi’arkan islam di Bali”, jelas Faruqi.
ia juga menambahkan, selain untuk memperoleh keberkahan ilmu dan sejarah islam di bali, juga disadarkan pentingnya ziarah makam agar selalu mengingat akhirat.
“Dengan ziarah ke kubur ini kita tambah ingat kematian, di mana segala amal perbuatan kita di dunia ini kelak akan dipertanggungjawabkan diakhirat”, imbuhnya.
Seperti pada umumnya peziarah, di makam Habib Umar Bin Maulana Yusuf Al-Maghribi, Ikatan Pelajar itu duduk bersila untuk bertawasul, berdzikir, dan membaca tahlil diakhiri makan bersama-sama.

Sementara itu, Rekanita Risma salah satu anggota yang juga mengikuti ziarah ini mengatakan, “Alhamdulillah PC IPNU IPPNU Tabanan telah melaksanakan ziarah ke salah satu makam wali pitu yang ada di bali, yakni makam Habib Umar Bin Maulana Yusuf Al-Maghribi yang berada di Bedugul, Semoga kita sehat selalu dan bisa melaksanakan kegiatan kegiatan seperti ini lagi kedepannya”
“Perjalanannya sangat seru dan menantang, karena jalur pendakiannya yang sangat terjal dan membutuhkan tenaga yang extra, walaupun melelahkan dan sangat menguras tenaga, tapi sesampainya di puncak gunung rasa lelah itu hilang karena disuguhkan dengan pemandangan alam yang sangat indah untuk bersua foto,” Ungkapnya Risma
Reportase & Editor: Michael Andi
]]>Bertindak selaku inspektur upacara, Ketua PCNU Kabupaten Tabanan, H. Mustain Hamry, S.Ag. Turut hadir pada upacara dari seluruh civitas akademika MI. Ma’arif NU Tabanan, hadir juga perwakilan dari seluruh BANOM maupun Lembaga Nahdlatul Ulama yang ada di kabupaten Tabanan, Yang meliputi Muslimat, Ansor, Banser, Fatayat, IPNU, IPPNU,Pergunu, Pagar Nusa, LP Ma’arif, LTN NU, LPBI NU, pengurus NUCare Lazisnu dan para santri MI. Ma’arif NU Tabanan.
“Hari Santri yang kita peringati setiap tanggal 22 Oktober adalah momentum bagi kita semua untuk mengenang dan meneladani para santri yang telah memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia”, Ujarnya H. Mustain Hamry, S.Ag
Ia juga menjelaskan bahwasannya Sejarah telah mencatat bahwa kaum santri adalah salah satu kelompok yang paling aktif menggelorakan perlawanan terhadap para penjajah. Salah satu bukti perlawanan santri terhadap para penjajah adalah peristiwa “Resolusi Jihad” pada tanggal 22 Oktober tahun 1945 yang dimaklumatkan oleh Hadratus Syekh Kiai Haji Hasyim Asyari
Dalam fatwa “Resolusi Jihad” itu Hadratus Syekh Kiai Haji Hasyim Asyari menyatakan bahwa “berperang menolak dan melawan penjajah itu fardlu ‘ain (yang harus dikerjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempuan, anak-anak, bersenjata atau tidak) bagi yang berada dalam jarak lingkaran 94 km dari tempat masuk dan kedudukan musuh.” Saudara-saudara sebangsa dan setanah Air
“Menyambung Juang Merengkuh Masa Depan” adalah sebuah penegasan bahwa santri masa kini memiliki tugas untuk meneruskan perjuangan para pendahulu yang telah berjuang tanpa kenal lelah demi kemerdekaan dan keutuhan bangsa, Tegasnya
Jika para pendahulu berjuang melawan penjajah dengan angkat senjata, maka santri saat ini berjuang melawan kebodohan dan kemunduran dengan angkat pena. Jika para pendahulu telah mewariskan nilai-nilai luhur untuk bangsa, maka santri masa kini bertanggung jawab untuk tidak sekadar menjaganya, melainkan juga berkontribusi dalam membangun masa depan masyarakat yang lebih baik.
“saya berharap Hari Santri tahun 2024 ini juga menjadi momentum untuk memperkuat komitmen kita semua, khususnya para santri dalam merengkuh masa depan dan mewujudkan cita-cita bangsa,” Pungkasnya
Pihaknya juga menekankan, Santri harus percaya diri karena santri bisa menjadi apa saja. Santri bisa menjadi presiden, dan kita punya presiden yang berlatar belakang santri, yaitu KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Santri juga bisa menjadi wakil presiden, dan kita punya wakil presiden berlatar belakang santri, yaitu KH. Ma’ruf Amin.
“Pada kesempatan ini saya juga hendak menegaskan bahwa Hari Santri bukan hanya milik santri dan pesantren. Hari Santri adalah milik semua golongan. Hari Santri adalah milik seluruh elemen bangsa yang mencintai negaranya,” Tegasnya.
Reportase & Editor: Michae Andi