“Pernikahan itu the most complicated thing in the world“
Dikutip dari buku Life As DivorceeMemasuki usia 20-an selain akan dihadapkan dengan pilihan dan keputusan-keputusan, kita juga akan diterpa pelbagai pertanyaan yang dimulai dengan kata “KAPAN”, kapan lulus kuliah ?, kapan menikah ?, kapan punya anak? jangan menunda, kapan diterima kerja dan kapan-kapan lain yang terkadang membuat sesak dada.
Kapan menikah ? jangan lama-lama nanti jadi perawan tua adalah salah satu bentuk kapan yang sudah ribuan kali kita dengar disetiap lebaran, pengajian atau sekedar hangout bersama teman-teman. Pernikahan itu tidak semudah mengucap kata “kapan” ada banyak hal yang harus dipikirkan, ditimbang, dianalisis sebelum memutuskan sesuatu hal yang complicated untuk kehidupan ke depan. Salah satu yang perlu dianalisis sebelum mengambil keputusan untuk menikah adalah pre-marriage talk (diskusi beberapa hal sebelum menikah), pada tulisan kali ini saya mengutip tentang tulisan dari Virly K.A dalam bukunya “Life as Divorce”.
Menurut saya, pre-marriage talk itu sangat penting untuk memahami kedua belah pihak, menganalisis dan menyusun mimpi untuk diwujudkan bersama.
Menurut Virly. "pre-marriage talk itu bukan hanya berbicara mengenai konsep pernikahan, siapa MUA-nya dan hal-hal teknis lainnya. Pre-merriage talk itu deep conversation diantara pasangan tentang banyak hal yang kira-kira akan mempengaruhi hidupmu sekarang dan di kemudian hari, seperti perinsip, impian, pandangan hidup, visi dan lain-lain." Ketika hendak memutuskan menikah atau ketika dalam tahap pendekatan kamu dapat mendiskusikannya bersama pasangan dan tidak perlu ragu karena komunikas dan rasa nyaman itu penting.
Hal apa saja yang perlu didiskusikan ketika melakukan pre-marriage talk
PERTAMA, Soal Hidup dan Prinsip Hidup.
Perbedaan memang bisa membuat kalian saling melengkapi, tetapi itu hanya jika perbedaannya bukan di hal-hal prinsipiel seperti beda makanan favorit, selera genre film, selera musik, lebih suka bubur diaduk atau enggak diaduk. Untuk perbedaan-perbedaan tersebut selama saling menghargai enggak akan jadi masalah. Yang jadi problem, kalau kamu dan pasanganmu berbeda di hal-hal prinsipiel, contohnya kalian sama-sama muslim, tetapi kamu (perempuan) moderat-masih ber-makeup dan suka travelling solo. Sedangkan pasangan, lebih saklek menganggap perempuan enggak pantas pakai celana, haram ber-makeup, dan big no untuk travelling sendirian.
KEDUA, Visi dan Impian
Selalu ingat ini: you deserve partner yang bisa mengimbangi kamu. Coba tanya pasangan kamu mengenai rencananya lima tahun ke depan. Analisislah jawabannya, apakah sesuai atau enggak dengan harapan kamu. Bagus kalau jawabannya terdengar yakin dan realistis. Be awere kalau ternyata berkebalikan dengan harapanmu atau kalau dia justru enggak punya jawaban apa-apa.
Contoh kasus dari penulis. Misal kamu ketika menikah ingin mewujudkan mimpi mu entah itu mempunyai bisnis, mengenyam pendidikan, ikut kursus ini dan itu dan menurutmu itu tidak akan mengurangi peranmu sebagai istri atau ibu. Ternyata pasangan mu tidak dapat menerima itu, pikirkan lagi alasannya dan apakah kamu siap dengan kemauannya ?, menurut penulis cinta itu saling tumbuh bersama bukan “membatasi”
KETIGA, Soal Anak
Menurut Virly, kamu perlu diskusikan perihal anak ini dalam pre-merriage talk. Misal ingin punya anak berapa, bagaimana jika salah satu atau keduanya mandul, bagaimana jika nanti terlambat dikaruniai buah hati. Diskusi, komunikasi terbuka dan dua arah menjadi hal utama.
KEEMPAT, Money Talks
Soal keuangan adalah hal yang sangat krusial sekali dalam pernikahan, ketika penulis Praktek Kerja Lapangan di salah satu Pengadilan Agama Negeri persoalan ekonomi menjadi hal utama terjadinya perceraian. Saling terbuka tentang keuangan bersama pasangan menjadi hal penting untuk dibahas, bagaimana keduanya akan mengatur keuangan dan lain-lain.
Menurut Virly, kalau saat ini kamu dan pasangan sama-sama punya penghasilan maka perlu mendiskusikan bagaimana pengaturan tanggung jawab keuangannya. Bagaimana jika salah satu pihak kehilangan pekerjaan? Bagaimana kalau kondisi keuangan tiba-tiba memburuk, apakah siap menyesuaikan gaya hidup ? Dan lain-lain termasuk merencanakan biaya pernikahan.
KELIMA, Tentang Perceraian
Pada bagian ini kamu mendiskusikan boundaries. Apa yang bisa dikompromikan dan apa yang enggak bisa. Contohnya: kamu enggak menoleransi kekerasan fisik, partner kamu enggak menoleransi perselingkuhan.
KEENAM, Sex Stuffs
Topik ini masih sangat tabu bagi sebagian besar pasangan di Indonesia termasuk penulis, Namun menurut Virly topik ini perlu didiskusikan. Informasi selengkapnya bisa di search di buku “Life as Divorcee”
Sekian dari penulis, jika ada kesamaan judul atau kritik dan saran sangat diperkenankan untuk dikoreksi.
Kim Ji-Young, anak kedua dari tiga bersaudara ia memiliki satu kakak perempuan dan satu adik laki-laki. Sejak ia masih belia Kim Ji-Yeong mengalami banyak ketimpangan yang terjadi pada dirinya dan kakak perempuannya, budaya patriakhal menjadi sebab ketimpangan tersebut.
Dalam ingatan Ji-Yeong ketika itu ia mencicipi susu bubuk milik adik laki-lakinya kemudian nenek Ji-Yeong marah bukan karna Ji-Yeong telah melewati usia untuk meminum susu tersebut melainkan karna neneknya menganggap Ji-Yeong telah mengambil barang milik “cucu laki-laki” kesayangan neneknya.
Dalam keluarga korea yang selalu mendapat keistimewaan adalah “laki-laki” bahkan kesempatan pertama untuk mengambil nasi diberikan kepada seorang laki-laki, jika dalam keluarga Ji-Yeong yang diperbolehkan lebih dahulu menyendok nasi Ayah, adik laki-laki lalu nenek. Adik laki-laki Ji-Yeong selalu mendapat perlakuan istimewa baik dari nenek maupun ayah karna ia seorang laki-laki.
Ketika Ji-Yeong masuk sekolah ada anak laki-laki teman sekelasnya yang selalu mengganggunya, ketika ia melapor hal tersebut kepada wali kelas. Wali kelas Ji-Yeong dengan nada santai mengatakan “itu biasa, anak laki-laki sering begitu jika menyukai perempuan.”. Ji-Yeong tak terima dengan perkataan wali kelas bagaimana bisa seorang laki-laki menyukainya tapi selalu mengganggunya.
Singkat cerita, ketika Ji-Yeong beranjak dewasa ia mulai bekerja pada satu perusahaan, diperusahaan tersebut ia mendapat perlakuan tidak adil bahwa seorang perempuan tidak cocok untuk memimpin dan mendapat jabatan khusus karena jika perempuan mendapat jabatan penting terlalu merepotkan ia harus cuti haid, hamil bahkan melahirkan. Padahal Ji-Yeong merasa lebih mampu mendapatkan posisi tersebut daripada rekan kerja laki-lakinya. Kemudian, Ji-Yeong menikah lalu memiliki anak, ia berhenti kerja dan fokus menjadi ibu rumah tangga dengan banyak pekerjaan yang tentu melelahkan meskipun suaminya turut membantu.
Ji-Yeong rindu akan bekerja, akhirnya ia memilih menjadi ibu rumah tangga sambil bekerja paruh waktu, tapi itu tidak berlangsung lama. Pada suatu hari Ji-Yeong bertemu rekan kerja perempuannya di Perusahaan dahulu. Rekan Ji-Yeong bercerita “saat ini situasi kantor tidak aman bagi perempuan, untung kamu sudah berhenti. Karyawan laki-laki memang keterlaluan mereka memasang CCTV pada setiap toilet perempuan. Lalu, rekaman CCTV perempuan tersebut akan saling dibagikan di grup karyawan laki-laki dan menjadi “bahan candaan.”. hati Ji-Yeong sakit mendengar hal tersebut, sejak kecil banyak hal yang dialami dirinya dan perempuan lain. Di keluarga laki-laki selalu mendapat perlakuan istimewa hanya karna dia “laki-laki”, di Sekolah anak laki-laki selalu mengganggu perempuan entah dengan selalu menaruh cermin di bawah meja perempuan dan lain-lain, di Perusahaan laki-laki selalu “dianggap lebih mampu” memimpin karna tidak mengalami pengalaman biologis seperti perempuan, ketika menikah perempuan selalu dihadapkan pada pilihan bekerja atau menjadi ibu rumahtangga saja padahal banyak perempuan yang mampu melakukan keduanya.
Ketimpangan sosial yang dialami Ji-Yeong terjadi karena adanya perbedaan Gender. Dalam buku karya DR. Mansoer Fakih “Analisis Gender dan Ketimpangan Sosial” dijelaskan: Sejarah perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan terjadi melalui proses panjang. Adanya perbedaan tersebut dikarenakan oleh banyak hal, diantaranya dibentuk, disosialisasikan, diperkuat, bahkan dikontruksi secara kultural. Dari perbedaan tersebut “melahirkan” ketimpangan sosial pada perempuan yakni: Marginalisasi (peminggiran terhadap perempuan), Subordinasi (anggapan bahwa perempuan itu irrasional dan terlalu emosional sehingga perempuan tidak bisa tampil dalam ruang publik), Stereotip ( pelabelan negatif pada perempuan), Kekerasan dan Double Burden (beban kerja ganda).
Singkat yang dapat penulis uraikan untuk lebih jelasnya kita bisa mebaca buku Kim Ji-Yeong: Lahir Tahun 1982 atau menonton filmnya dengan judul serupa.
(Dinul Qoyyimah, PAC IPPNU Baturiti)
]]>Kiriman puisi tanggal 03/03/19 selamat membaca! Dengan lirih aku menyebut namanya hanya di dalam hati Tak lantang apalagi berteriak Karna aku yakin cukup dengan lirih Rasa cinta ini takkan pernah berkurang Aku masih terus memanggilnya Tanpa pengeras suara, tanpa membesarkan suara Hanya berbisik Karna jika aku berteriak dimana adabku? Tak ada yang lebih syahdu kecuali mencintai Tanpa harus mengumbar Tak ada yang lebih nikmat Dari bersenandung atas namanya tanpa pamrih Tak ada yang lebih agung Dari cintanya seorang pengikut yang mencintai tulus dengan hati Tanpa harus berkata lantang dalam kemunafikan Karya : Julia Sari Indah F.]]>
Cerpen Oleh Julia Sari Indah F.
Dikirim 03/03/19
Ayah…
Dalam hening sepi kurindu
Untuk menuai padi milik kita
Tapi kerinduan hanya tinggal kerinduan
Anakmu sekarang banyak menanggung beban
Aku masih mematung menatap nisan bertuliskan nama belakangku, sudah 3 tahun ayah meninggalkan aku dan aku masih tak mau jika posisinya tergantikan, aku masih nggak ingin ada ayah, papa, atau apalah itu dirumah ayah. Grimis masih menemaniku dipenghujung senja, aku maih bercegkrama dengan ayah dalam bisu, sebelum akhirnya semua menggelap dan aku tak tahu apa yang terjadi selanjutnya.
***
Aku berada dilorong serba putih, semuanya berpendar menyilaukan, dimana aku? Batinku terus berkecamuk, apakah aku sudah mati?. Sayup-sayup aku mendengar suara langkah kaki dari belakangku, aku menoleh dan mendapati samar-samar bayangan orang yang sangat ingin kutemui.
“ayah…” teriakku. Dan ia hanya tersenyum, aku berlari mengahmpirinya, memeluknya erat namun yang kurasa hanya dingin seperti ada kehampaan disana
“ayah.. apa aku sudah benar-benar ikut dengan ayah?”
“raisya.. ayah hanya datang kedalam mimpimu, ayah nggak mau kamu terus-terusan mengekang bundamu, dia berhak dapat kebahagiannya juga nak” kata ayah dengan senyum yang mengembang.
“raisya nggak mau yah…” rajukku
“raisya mau ayah bahagia di alam ayah?” pertanyaan ayah membuatku menoleh kearahnya
“tentu saja” jawabku mantap
“jika raysa mau ayah bahagia di alam ayah, raisya harus ikhlaskan ayah, dan raisya harus berjanji membiarkan bunda membahagiakan dirinya sendiri dan membahagiakan raisya dengan cara bunda” aku mengengguk tanda menyetujui perkataan ayah, aku memeluknya lagi dan sekarang aku rasakan ada kehangatan dsana.
“kamu harus kembali sayang, bunda sedang khawatir” aku tersentak dan melepaskan pelukanku
“nggak bisakah raisya dsini dengan ayah?” tanyaku
“waktu raisya masih jauh sayang, berjanji pada ayah, raisya akan bahagiain bunda” setelah mengucapkan itu perlahan-;ahan bayangan ayah berdenyar dan hilang.
Aku mencarinya kesana kemari, berteriak dan mulai menangis sesegukan lagi.
***’
“ayah…” aku terbangun, dan mendapati ruangan serba putih dan bau obat yang menyengat, seorang laki-laki menghampiriku dan setelah dekat aku tau dia pacarku ricky. Aku langsung memeluknya dan menangis sesegukan di dadanya membuat basah kaos quicksilver yang dipakainya, ia hanya mengusap-usap rambutku dan berkata
“semuanya baik-baik saja sayang, aku disini”
“raisya…” panggilan seorang wanita paruh baya mengagetkanku, dan membuat aku menoleh dari balik pundak ricky, dan mendapati wajah panik bunda disana, ia mendekat dan memelukku, tangisnya pecah dipundakku.
“maafin bunda sayang, bunda nggak akan memaksakan kehendak bunda lagi, bunda hanya mau raisya bahagia” katanya dengan sesegukan
Aku menangis juga akhirnya pada pundak bunda, ricky pun tak kuasa menahan air matanya, ku dapati ia mengusap-usap sudut matanya berkali-kal, setelah semuanya lebih tenang, aku membuka pembicaraan dengan bunda yang tengah duduk di sebelah ranjangku dan terus menggemgam tnganku.
“bunda,”
“iya sayang”
“raisya nggak apa-apa kalau bunda mau menikah lagi dengan om danu” bunda terbelalak menatapku
“tapi sayang…”
“udah raisya Cuma mauu bunda bahagia” kataku seraya tersenyum, dan bunda memlukku lagi, aku lega kyhirnya aku bisa ikhlas dengan takdir hidup yang harus aku jalani. Dan lagi-lagi ini karna ayah, aku menatap langit-langit kamar rumah sakit dan berbisik terimakasih ayah, raisya mencintai ayah.
***
Senja tak bergerimis kali ini, aku mengunjungi makam ayah lagi, tapi aku tak sendiri, ada ricky yang terus menggandeng tanganku, ada bunda dan ayah baruku. Aku menaburkan bunga dan menyirami makam ayah dengan air bunga, lalu kami semua berdoa untuk kebahagiaan ayah disana, sebelum pulang aku menunduk, membisakan kata rindu di nisan ayah, dan berharap ia datang lagi kemimpiku seperti waktu itu.
]]>